SMPN 3 Ampek Angkek, Sekolah yang Melahirkan Ratusan Buku Dancesport Makin Diminati, IODI Padang Panjang Resmi Resmi Terbentuk Bahas Desain Sampul, Komunitas Seni Kuflet Matangkan Penerbitan Buku Puisi “Air Mata Sumatra” Anjing Pelacak yang Menjalankan Misi Kemanusiaan Itu Gugur di Medan Bencana Dari Gudang ke Galeri, dari Galeri ke Cuan Mahasiswa Prodi Seni Murni ISI Padang Panjang Gelar Pameran dari “Gudang ke Galeri”

ESAI

H.M. Aksa Mahmud, Kisah Sepotong Mangga di Chaeril Anwar

badge-check


					H.M. Aksa Mahmud, Kisah Sepotong Mangga di Chaeril Anwar Perbesar

Oleh Bachtiar Adnan Kusuma

Hari ini, tepat Rabu, 16 Juli 2025, Tokoh Pengusaha Nasional asal Sulsel, H.M. Aksa Mahmud, genap berusia 80 tahun. Aksa Mahmud lahir di Mangkoso, Barru, 16 Juli 1945 silam.

Pertama, penulis pertama kali mengenal langsung sosok H.M. Aksa Mahmud pada 1990, ketika penulis mendapat tugas menulis profil pendiri PT. Bosowa Group ini di majalah Panji Masyarakat yang dipimpin Drs. H. Rusydi Hamka. Suatu pagi, penulis menemui H.M. Aksa Mahmud di kediamannya yang resik di Jl. Chaeril Anwar, Makassar. Penulis diterima dengan ramah sekaligus diperlihatkan bukti tulisan tentang beliau di majalah yang didirikan Buya Hamka.

Sesaat penulis pamit, beliau menitipkan beberapa biji mangga masak yang dipetik sendiri dari halaman rumahnya. Inilah kesan pertama penulis tentang sosok H.M. Aksa Mahmud: pribadi yang sederhana dan ramah kepada siapa saja.

Salah satu pernyataan menarik dari H.M. Aksa Mahmud adalah, “Jika ada kesempatan untuk maju, mengapa kita menolaknya?” Aksa merasa jengah untuk besar sendirian. Sejumlah karyawannya yang berpotensi justru dilepaskan agar bisa menata diri sendiri.

Sebagaimana Aksa Mahmud yang dahulu memilih hengkang dari Group Haji Kalla—tempatnya pertama merintis pekerjaan. “Saya ingin memusatkan perhatian untuk mengembangkan usaha secara berdikari,” kata Aksa Mahmud dalam buku Sejumlah Orang-Orang Sulsel karya penulis bersama Alif We Onggang dan Ahmad Tahir Ratu (buku ini diluncurkan di Grand Cempaka Hotel, Jakarta, 1998).

Awalnya Aksa memilih menjadi wirausaha dan mulai merintis usaha pada 1978. Saat memperoleh pinjaman Rp5 juta dari bank, modal itu digunakan untuk mendirikan PT. Bosowa Berlian Motor yang menjadi agen Indokaya, produsen mobil Datsun di Indonesia. Aksa pun membanting tulang. Pelan tapi pasti, dengan keringat dan kegigihan, Aksa Mahmud membesarkan Bosowa hingga berkembang pesat. Kini, saatnya ia memetik hasil.

Bakat dagang Aksa Mahmud memang sudah terasah sejak kanak-kanak. Selagi masih duduk di bangku SD di Barru, Aksa kecil berjualan permen sambil tetap belajar. Sepulang sekolah, usai berganti pakaian, ia menjajakan kembali sisa permen yang tak laku di depan masjid. Kebiasaan berdagang itu berlanjut saat Aksa masuk SMP di Parepare, bahkan semakin mengakar ketika meneruskan pelajaran di STM Pembangunan Makassar. “Saat liburan sekolah, saya mencari rumput laut untuk dijual di Parepare dan Ujungpandang,” kenang Aksa.

Dari hasil keringatnya itu, Aksa sanggup membiayai sendiri sekolahnya, termasuk uang jajan. Tamat STM, Aksa tak sempat menamatkan kuliah di Fakultas Teknik Unhas. Apa daya, ia larut dalam demonstrasi mahasiswa pada 1966. “Saya akhirnya keluar dan lebih asyik mencari uang, antara lain menjadi wartawan di Ujungpandang,” ujar Aksa.

Kedua, penulis kembali bertemu H.M. Aksa Mahmud pada 1998 ketika mewawancarainya untuk penulisan buku 70 Tahun A.A. Baramuli Pantang Menyerah. Waktu itu penulis menemuinya di Hotel Berlian, miliknya di Jalan Urip Sumoharjo, Makassar. Pada akhir wawancara, H.M. Aksa Mahmud bahkan sempat berniat agar penulis menuliskan biografinya. Kendati hingga kini niat tersebut belum juga terwujud, penulis masih menyimpannya sebagai amanah.

Ketiga, penulis kembali bertemu H.M. Aksa Mahmud saat penyerahan Penghargaan Parmusi Award yang digelar Pengurus Wilayah Parmusi Sulsel di Menara Bosowa, Sabtu 4 Januari 2019. Penulis bersama H.M. Aksa Mahmud dan H.M. Iqbal Parewangi didapuk menerima Parmusi Award yang diserahkan Dr. K.H. Abubakar Wasahua, M.H. Berikutnya, penulis diundang lagi ke Menara Bosowa atas pembuka jalan H. Muslim Salam, orang kepercayaan beliau, dengan maksud agar penulis ikut mendukung Munafri Arifuddin pada Pilwalkot Makassar 2019.

Yang tak kalah berkesan, saat penulis pamit sambil mencium tangan H.M. Aksa Mahmud, tiba-tiba beliau berkata, “Bachtiar, kamu mau umrah?” Penulis menjawab, “Mau, Puang.” Spontan H.M. Aksa Mahmud memerintahkan H. Muslim Salam agar penulis diikutsertakan dalam program Umrah yang diprakarsai Hj. Melinda Aksa Munafri.

Apa yang menarik dari sosok pengusaha nasional asal Sulsel ini? Hemat penulis, selain pribadinya yang sederhana, apa adanya, dan agamis, ia juga menjaga ibadahnya dengan baik. Bicara seperlunya, to the point, dan selalu lebih dulu menyapa orang-orang yang ditemuinya.

Selamat ulang tahun, Puang H. Aksa Mahmud. Sehat selalu, dan jadilah teladan bagi kami yang masih jauh lebih muda. []

Bachtiar Adnan Kusuma
Tokoh Literasi, Penulis, Motivator, dan Pembicara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Sekolah Selayaknya Memiliki Sanggar Seni

22 November 2025 - 19:48 WIB

Menziarahi Suara yang Tak Ingin Pergi

20 November 2025 - 16:06 WIB

Membangun Budaya Entrepreneurship di Kampus ISI Padang Panjang

13 November 2025 - 14:51 WIB

Ketika Muslim Kehilangan Wakilnya di Bali

1 November 2025 - 10:52 WIB

Makna Simbolik Permainan Tradisional bagi Masyarakat Adat

26 Oktober 2025 - 19:17 WIB

Trending di ESAI