Dancesport Makin Diminati, IODI Padang Panjang Resmi Resmi Terbentuk Bahas Desain Sampul, Komunitas Seni Kuflet Matangkan Penerbitan Buku Puisi “Air Mata Sumatra” Anjing Pelacak yang Menjalankan Misi Kemanusiaan Itu Gugur di Medan Bencana Dari Gudang ke Galeri, dari Galeri ke Cuan Mahasiswa Prodi Seni Murni ISI Padang Panjang Gelar Pameran dari “Gudang ke Galeri” Menyalakan Semangat Menulis di Tubuh Birokrasi

OPINI

Empat Macam Ragam Manusia Menurut Adat Minang

badge-check


					Empat Macam Ragam Manusia Menurut Adat Minang Perbesar

Oleh Muhammad Jamil, S.Ag. Labai Sampono

ADA empat macam manusia (urang) menurut adat Minangkabau.

  1. Urang yang dinamokan urang manuruik adaik

Adalah manusia biasa yang beraktivitas apa adanya saja. Dia makan, hidup, bekerja, tidur, kawin, dan lain sebagainya. Dalam istilah Mandailingnya, aktivitas ini disebut 3 M (mangan, modom, dan miting). Artinya, rutinitas kehidupannya hanya berkisar pada itu saja.

  1. Urang-urang (orang-orang)

Urang-urang ialah ceplakan manusia atau benda yang dibuat menyerupai manusia. Biasanya para petani di kampung-kampung membuat urang-urang di sawah, diberi tali dan tontoang yang bisa dibunyikan dengan tali untuk mengusir burung.

  1. Tampang urang

Artinya adalah manusia yang hanya sekadar manusia biasa saja, yang hanya mengandalkan rupa dan ketampanan. “Saroman labu di dapua, onjak ilia onjak mudiak, karajo nagari indak pernah diakok“, atau dengan kata lain, manusia rancak di labuah.

  1. Nan sabana urang

Maksudnya adalah manusia ideal menurut adat dan syarak, yakni manusia yang menjadi panutan dalam kehidupan sosial. Atau istilah lainnya adalah insan kamil.

Insan kamil secara harfiah dapat diartikan sebagai manusia yang sempurna. Sedangkan secara istilah, insan kamil bermakna manusia yang sempurna secara sifat, bukan secara fisik. Ciri-ciri insan kamil dapat dikenali lebih jauh.

Dalam buku Akhlak Tasawuf karya Abuddin Nata dijelaskan, terdapat beberapa ciri yang dapat dilihat dari insan kamil:

Akal yang berfungsi secara optimal, yakni akal yang dapat mengetahui segala perbuatan baik seperti adil, jujur, berakhlak sesuai dengan esensinya, dan merasa wajib melakukannya.

Buku “Hiduik Baradaik” karya Muhammad Jamil, S.Ag. Labai Sampono. (Foto: Dok. IST.)

Intuisi yang berfungsi, dalam pandangan Ibnu Sina disebut sebagai jiwa manusia. Menurutnya, jika yang dominan dalam diri seseorang adalah jiwanya, maka orang itu hampir menyerupai malaikat dan mendekati kesempurnaan.

Kemampuan menciptakan budaya, sebagai bentuk pengamalan dari berbagai potensi yang terdapat pada dirinya sebagai insan. Manusia yang sempurna adalah manusia yang mampu mendayagunakan seluruh potensi rohaniahnya secara optimal.

Menghiasi diri dengan sifat-sifat ketuhanan. Manusia, sebagai makhluk yang memiliki fitrah atau naluri ketuhanan, cenderung kepada hal-hal yang berasal dari Tuhan dan mengimaninya. Sifat-sifat ini menjadikannya sebagai wakil Tuhan di muka bumi.

Manusia sebagai khalifah yang demikian merupakan gambaran ideal, yaitu manusia yang berusaha menentukan nasibnya sendiri, baik sebagai anggota masyarakat maupun sebagai individu yang memiliki tanggung jawab atas kehendak yang bebas. Manusia yang insan kamil, meski memiliki kebebasan, pasti mampu mengendalikan dirinya dari hal-hal yang mencelakakan.

Semoga kita menjadi insan kamil. []

Muhammad Jamil, S.Ag. Labai Sampono, Praktisi adat dan pengurus LKAAM Sumatera Barat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Chaidir Syam, AMTI Maros, Unik dan Eksotis

22 November 2025 - 06:41 WIB

60 Tahun ISI Padang Panjang, Layak Jadi Fasilitator dan Katalisator Pusat Pengembangan Industri Kreatif di Sumatera Barat

14 November 2025 - 10:22 WIB

Logika yang Retak di Era Digital

24 Oktober 2025 - 17:46 WIB

Menyaring Kualitas, Menyelamatkan Demokrasi

7 Oktober 2025 - 16:56 WIB

Ketika yang Berkeringat Duduk di Kursi Kekuasaan

3 Oktober 2025 - 19:16 WIB

Trending di OPINI