Nyala Literasi Ada di Tangan Pustakawan Pustakawan Profesi Mulia vs Uang Palsu Setiap Hari Pustakawan Wajib Baca Buku Minimal Setebal Seratus Halaman

Tempayan

Di Lembah Terasing

badge-check


					Di Lembah Terasing Perbesar

Oleh Zharifatul H.A.

ATMOSFER petualangan terasa pekat di langit-langit mobil sedan itu. Di bagasi penuh dengan barang-barang dan perlengkapan mereka—sekumpulan perempuan yang akan melakukan petualangan seru. Pakaian mereka serba hitam, antirobek, dan tetap nyaman karena dirancang sedemikian rupa oleh ayah Yuki, seorang ilmuwan asli Jepang.

Udah siap semuanya?” tanya seorang perempuan blasteran Jepang, memastikan.

Udah!” jawab teman-temannya serempak.

Let’s go!” Belum habis kalimat Asya, Yuki sudah menancap gas kencang.

“Matsumi Yuki!” Asya mengencangkan pegangan tangannya.

“Hehe, sorry, Sya.” Cengir Yuki tanpa dosa.

Sakiiit!” Hazel meringis.

“Kenapa?” tanya Asya bingung.

Hazel menunjuk lengannya yang dicengkeram Asya dengan kuat. Asya cepat menarik tangannya dan meminta maaf.

“Maaf ya, Zel,” ucap Asya dengan rasa bersalah.

“Iya,” jawab Hazel lirih sambil memegang lengannya yang memerah.

Pandangan Asya beralih ke depan, melotot ke arah Yuki yang ikut memerhatikannya lewat kaca spion.

“Ini gara-gara kamu!” sebal Asya.

Yuki berpura-pura fokus mengemudi.

“Huh!” Clara mengembuskan napas berat.

“Kenapa?” tanya Alza dingin.

“Aku diutus ikut lomba cerpen, tapi bingung temanya apa,” keluh Clara.

“Di sana aja nanti cari ide,” saran Alza.

“Iya,” singkat Clara.

Roda mobil terus melaju menuju tempat yang diinginkan pengemudi. Rumah mereka makin jauh tertinggal. Satu per satu daerah terlewati. Sesekali mereka singgah di warung untuk membeli minuman. Setelah beberapa jam perjalanan, tibalah mereka di kawasan pepohonan pinus yang menjulang tinggi. Clara sempat memotret pemandangan pepohonan pinus dengan digicam berwarna merah muda. Sesekali pejalan kaki berlalu-lalang. Tanpa sadar mereka melewati papan kayu bertuliskan sesuatu — yang kelak menjadi kesalahan fatal.

Tibalah mereka di penghujung jalan. Terhampar pemandangan yang sangat indah. Yuki, Keline, Clara, Alza, Visha, Asya, dan Hazel berloncatan turun dari mobil. Rumput terbentang luas; di seberang sana sungai mengalir jernih, bebatuan tersusun rapi di kiri-kanan sungai. Sunyi, hanya suara riak air yang terdengar. Seakan ada kekuatan gaib yang menghipnotis mereka, terlena oleh keindahan hingga melupakan apa yang harus dikerjakan.

“Hei!” tegur Clara yang lebih dulu sadar, menyadarkan teman-temannya.

“Hmm?”

Mereka tetap terhipnotis.

“Kita nggak masang tenda?” tanya Clara.

“Eh, iya!” jawab teman-temannya serempak, lalu mengambil barang di bagasi.

Tas-tas besar dikeluarkan, dan mereka mulai memasang tenda. Selesai, Clara dan lainnya bisa bersantai menikmati pemandangan. Setelah cukup lama beristirahat, mereka mulai mencari bahan untuk makan malam. Alza bergerak masuk ke pepohonan pinus mencari kayu bakar.

“Kami udah dapet ikannya nih!” teriak Asya dan Hazel antusias sambil membawa ember penuh ikan. Tak lama kemudian, Alza datang membawa kayu dan meletakkannya tak jauh dari tenda.

“Kalian salat dulu. Biar aku, Visha, dan Keline yang siapin makan malam,” ujar Yuki mengingatkan teman-temannya. Jam menunjukkan pukul 18.30, waktu magrib. Mereka memang berbeda agama, tetapi selalu saling menghormati dan taat pada keyakinan masing-masing.

“Kami salat dulu, ya,” jawab Clara sambil melangkah mengambil wudu. Segera ia mengerjakan salat di dalam tenda bersama Alza, Hazel, dan Asya. Lembah itu jauh dari mana-mana, hanya jam yang dapat menentukan waktu salat.

Selesai salat, Clara melipat mukena dan bergabung menyiapkan makan malam. Mereka menyajikan masakan di atas tikar bermotif kotak hitam-putih seperti papan catur. Sepotong ikan bakar dan nasi tak mengurangi lahapnya Asya dan lainnya makan.

“Gluk! Gluk! Gluk! Aaahhh ….” Meledaklah tawa mereka melihat kelakuan Asya yang random.

“Aku tahu kok ikan yang aku bakar lezat,” ucap Yuki dengan gaya menyebalkan.

“Dih! Aku yang masak, lho!” sahut Keline tak terima.

“Aku!” Yuki memelototi Keline.

“Aku yang bakar ikannya!” balas Keline.

“Aku yang kasih bumbunya. Kalau nggak ada bumbu, nggak bakal lezat!” Yuki tak mau kalah.

Kalo nggak dibakar, ikannya nggak bakal matang!” Keline meninggikan nada.

Udah, biar adil, aku yang bakar dan bumbuinnya,” sela Visha enteng.

Nggak!” jawab Keline dan Yuki serempak, mata mereka menghunus tajam ke arah Visha.

Udah, udah, semuanya sama-sama betul,” lerai Clara bijak.

Memang di antara Asya dan lainnya, hanya Clara yang paling dewasa. Mereka saling melengkapi: Alza si dingin, Yuki pengendara andal, Asya yang humoris, Hazel si cerdas, Visha dan Keline pandai bela diri. Hal-hal sepele tak akan memutus ikatan persahabatan mereka.

Hening. Hanya suara riak air yang terdengar. Angin berembus dingin di kulit putih Clara. Ia duduk di atas batu besar tak jauh dari tenda, ditemani buku, pensil, dan digicam. Lampu lentera ia letakkan di sampingnya. Rembulan terang menyinari malam. Api unggun telah lama padam.

Tangan ramping itu lincah menulis di buku. Ia memerhatikan sekitar, mencari imajinasi. Sesekali Clara memotret pemandangan yang menurutnya bagus. Tanpa disadari, sosok hitam menatap Clara dengan tatapan sulit diartikan.

Clara mulai mengantuk. Ia melihat jam tangan — jarum menunjukkan pukul 12 tepat. Ia pun melangkah menuju tenda. Sosok hitam itu terus memerhatikan gerak-geriknya. Tak butuh waktu lama, Clara terlelap dalam mimpi.

*

“Niu! Niu! Niu!” Mobil polisi berdatangan di lembah asing itu. Senja yang indah berubah mencekam. Untuk pertama kalinya lembah itu ramai oleh manusia. Sisa-sisa perkemahan masih terlihat.

Polisi mulai menyelidiki tempat di mana Yuki dan teman-temannya tewas dalam keadaan mengerikan — bola mata dicongkel, jari-jari terpotong, perut dibelah hingga isi-isinya terburai. Di antara jasad mereka, tak seorang pun tahu di mana Clara dan Alza.

Darah berceceran di mana-mana. Polisi terus menyelidiki hingga malam. Cahaya senter menembus kegelapan. Suasana lembah itu seperti kisah horor di film-film.

“Hei, itu apa?” tanya salah satu polisi sambil menyenter pepohonan pinus. Ia menunjuk sesuatu di dahan tinggi. Beberapa polisi mendekat. Saat disorot, tampak dua tubuh tergantung di satu tali — berdarah-darah, penuh tusukan.

Mayat itu tiba-tiba jatuh tepat di depan polisi. Suasana semakin mencekam. Di saku korban, mereka menemukan kartu nama bertuliskan Shena Clara dan Alzano Far.

*

Clara terjaga. Ia melihat sekeliling. Matahari telah tinggi. Yuki dan lainnya duduk di hamparan rumput, menikmati pemandangan.

“Untung cuma mimpi,” batin Clara lega, meski masih diselimuti rasa takut karena mimpinya begitu nyata dan menyeramkan.

“Kenapa?” tanya Alza yang sudah berada di sampingnya sambil menyodorkan cokelat hangat.

“Nggak apa-apa,” jawab Clara, menerima cokelat itu.

“Mandi di sungai, yuk!” usul Hazel antusias.

“Yuk!” sahut Asya, Yuki, Keline, dan Visha penuh semangat.

Byurr! Yuki melompat ke sungai setinggi pinggang. Cipratan air mengenai wajah Asya. Asya tergelak lalu ikut menceburkan diri, disusul yang lain. Clara tersenyum tipis melihat teman-temannya bermain air.

Udah dapat temanya?” tanya Alza sambil memerhatikan mereka.

Udah,” jawab Clara, meneguk cokelat hangat.

Tiba-tiba datang seorang nenek mendekati Clara dan Alza. Bajunya lusuh, wajahnya keriput, rambut putihnya berantakan, dan ia membawa tongkat kayu. Ada bekas cakaran dari alis hingga kantong matanya yang tampak telah lama kering.

Banyak pertanyaan ingin Clara sampaikan, tapi ia urungkan karena takut menyinggung. Ia menunggu nenek itu bicara lebih dulu.

“Kalian kenapa ke sini?” tanya nenek itu lembut — tak sesuai dengan bayangan Clara dan Alza.

“Kemping, Nek. Nenek dari mana?” tanya Clara penasaran.

Nggak perlu kalian tahu dari mana saya. Yang penting, saya ingin menyampaikan sesuatu.” Suaranya berubah serius. “Segeralah tinggalkan tempat ini. Lembah ini tak pernah didatangi manusia lagi sejak empat puluh tahun lalu. Saat saya berumur dua puluh dua tahun, saya kemping bersama teman-teman, persis seperti kalian. Ketika itu ketenangan lembah ini hancur seketika karena salah satu dari kami.”

Nenek itu menarik napas panjang, lalu bercerita tentang temannya yang dirasuki makhluk jahat dan menumbalkan teman-temannya sendiri demi menyembuhkan orang tuanya yang sakit. Hanya nenek itu yang selamat, bersembunyi di pohon pinus hingga pagi. Ia melihat sendiri makhluk bertanduk empat memenggal kepala temannya dan berkata bahwa roh gentayangan itu kini disebut Si Buntung. Selama empat puluh tahun, tak ada manusia berani datang lagi — sampai mereka datang.

Dengan wajah tegang, Clara mendekat ke arah Alza.

“Benarkah?” tanya Alza dingin. Siapa pun akan curiga pada orang asing yang tiba-tiba bercerita panjang seperti itu.

“Kalau tak percaya, tanggung risikonya. Kalau terjadi sesuatu, jangan sesekali melibatkan warga sekitar,” ucap nenek ketus. “Kalian beruntung belum diganggu Si Buntung. Ambil ini.”

Nenek itu melempar cincin berhiaskan kristal kecil. Clara sigap menangkapnya.

“Pakai salah satu di antara kalian kalau ingin selamat,” lanjut nenek itu.

Saat Clara dan Alza hendak bertanya lagi, nenek itu sudah menghilang.

Clara termenung. Apakah cerita itu benar? Tapi ajaran agamanya di pesantren menolak kepercayaan pada dukun dan hantu — itu musyrik. Ia bimbang antara logika dan keyakinan.

“Kalian ngapain di sana?” teriak Asya. Clara spontan memakai cincin itu tanpa memberi tahu siapa pun.

Udah selesai mandi?” tanya Clara.

Udah. Kalian kenapa nggak ikut?” tanya Hazel.

“Lagi malas,” jawab Alza datar, membantu Clara beralasan.

“Kita sampai kapan di sini?” tanya Clara berusaha tenang.

“Besok pagi,” jawab Yuki singkat, menyisir rambut basahnya.

“Kita bisa pulang sekarang, nggak?”

“Kenapa buru-buru?” Yuki mendelik curiga.

“Aku harus siapkan bahan untuk lomba besok.”

“Lomba apa?” tanya Visha.

“Lomba cerpen dan olimpiade IPS.”

Yuki menimbang-nimbang, lalu mengangguk. “Ya udah, kita siap-siap dulu.”

Tak lama kemudian mereka sudah berkemas, memasukkan barang ke bagasi, lalu menaiki mobil satu per satu.

Clara mengamati lembah itu untuk terakhir kalinya. Tak disangka, lembah seindah lukisan ini menyimpan misteri. Ia ingin berlama-lama di sana, menikmati tenang dan indahnya suasana — namun sekaligus ingin segera pergi. Lembah ini akan menjadi inspirasi untuk cerpennya, dan ia menyimpan memori keindahannya erat dalam benak. []

Zharifatul H.A., siswi SMP IT Cahaya Makkah, Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Puisi-Puisi Sumira Putri

11 Desember 2025 - 17:24 WIB

Pintu yang Tak Pernah Ditutup

19 November 2025 - 11:58 WIB

Kisah Gadis yang Berjuang Menjadi Taruni

5 November 2025 - 09:46 WIB

Rumah Gadang Maimbau Pulang

22 Oktober 2025 - 21:15 WIB

Payung Pelindungmu

17 Oktober 2025 - 20:52 WIB

Trending di Tempayan