Nyala Literasi Ada di Tangan Pustakawan Pustakawan Profesi Mulia vs Uang Palsu Setiap Hari Pustakawan Wajib Baca Buku Minimal Setebal Seratus Halaman

KOLOM

Dari Padang Panjang ke Pasaman Barat Lewat Kelok Ampek Puluah Ampek

badge-check


					Dari Padang Panjang ke Pasaman Barat Lewat Kelok Ampek Puluah Ampek Perbesar

Oleh Muhammad Subhan

MULANYA saya berpikir hendak lewat Singkarak, dari Padang Panjang, terus ke Solok, lurus lagi hingga melintasi Sitinjau Laut yang terkenal itu.

Dari Sitinjau Laut, lurus lagi hingga tiba di Bypass Padang, terus ke Simpang Bandara Internasional Minangkabau. Dari situ berbelok ke Pariaman, Tiku, hingga sampai ke Simpang Gudang, baru ke Simpang Empat, Kabupaten Pasaman Barat.

Jauh sekali.

Kalau jadi saya tempuh ke sana, mungkin agak sepuluh jam atau lebih baru tiba. Itu pun kalau tidak macet parah di Sitinjau Laut.

Kawasan ini, kalau satu truk saja mogok di tengah jalan karena rusak atau kecelakaan, sudahlah, macet mengular akan terjadi. Belum lagi kalau dinding bukitnya longsor, habislah. Bisa sehari semalam menginap di jalan.

Selain lewat Solok, ada jalan alternatif kedua: lewat Palupuh, terus ke Kumpulan, keluar di Malampah, berbelok ke kanan, lalu lurus ke Simpang Empat. Dari informasi kawan-kawan wartawan, rute ini aman. Tapi definisi aman, di saat suasana bencana seperti sekarang ini, tidak selalu benar-benar aman.

Siangnya, saya mendapat kabar, di Palupuh terjadi longsor. Jalan ditutupi material tanah dari dinding bukit di kawasan itu.

Syukurlah, saat informasi itu saya terima, saya sudah tiba di Simpang Empat, di rumah Ketua Forum Pegiat Literasi (FPL) Pasaman Barat, Denni Meilizon.

Entah kenapa, hati saya kuat hendak lewat jalan yang biasa saya lalui jika jalan nasional Padang Panjang—Padang Pariaman belum berfungsi, sebab masih dalam masa perbaikan pascagalodo dan banjir bandang di Lembah Anai sehingga jalan terban. Jalan yang akhirnya saya pilih adalah Padang Lua, terus ke Sungai Landia, Matur, Kelok Ampek Puluh Ampek, Maninjau, hingga Lubuk Basung. Dari Lubuk Basung saya terus ke Pasaman Barat.

Sebelum berangkat saya cemas. Kelok Ampek Puluh Ampek bukan medan yang mudah: rimba berbukit dan lembah. Dan sebelum itu harus melewati Sungai Landia.

Dan, benarlah. Mulai memasuki Sungai Landia, di mata saya tampak puluhan longsoran dinding bukit dan beberapa sisi jalan terban. Terbannya bukan semeter dua meter, melainkan belasan meter, bahkan lebih. Di bawah sana jurang membentang dalam.

Sisa badan jalan hanya muat untuk satu kendaraan saja. Kurang semeter sudah ke jurang. Kalau saja kontur tanahnya tak kuat, habislah, bisa amblas dan terjun bebas bersama kendaraan seisinya. Jantung saya berdegup kencang tak beraturan, was-was sepanjang perjalanan.

Syukurlah, Sungai Landia terlewati dengan selamat. Hingga menjelang Matur, sebuah jembatan alternatif dibuat warga dari batang kelapa. Jembatan beton sebelumnya terban, ambruk ke sungai. Arusnya kuat sekali. Di tepi sungai itu ada sebuah pesantren tradisional yang dulu saya lihat memiliki beberapa bangunan, tetapi kini tak tampak lagi. Hilang disapu arus sungai saat musibah terjadi. Menyisakan satu bangunan beton yang sudah agak miring. Beberapa orang tampak di dalamnya, membereskan barang-barang yang mungkin masih dapat diselamatkan.

Selepas itu saya memasuki Matur, negeri yang rancak itu. Namun sebelum sampai ke jantung Matur, jalan dialihkan warga ke jalan kampung. “Longsor dan terban, Pak,” ujar mereka. Jalan kampung itu sempit, hanya muat satu kendaraan. Di ujung sana, sekelompok warga mengatur arus lalu lintas.

Matur terlewati dengan baik. Perjalanan berlanjut ke Kelok Ampek Puluh Ampek. Mulai di kelokan pertama, jalan sudah dihalang orang karena arus satu arah. Harus buka-tutup. Harus sabar. Sebab di situ ada longsor juga. Setelah menunggu, akhirnya jalan penurunan dengan kelokan yang jumlahnya lebih dari empat puluh empat itu terlewati juga.

Di kelokan tiga puluh lima terdapat satu titik longsoran kecil. Jalanan meski lengang, masih tampak satu dua kendaraan dari bawah yang naik. Kendaraan saya terus melaju turun. Setiap kelokan harus membunyikan klakson keras-keras agar kendaraan dari arah berlawanan dapat berjaga-jaga dan mengendalikan laju, sehingga sama-sama terhindar dari kecelakaan.

Di tengah perjalanan, di kelokan yang entah ke berapa, tampak sebuah pohon besar tumbang. Akar dan batangnya masih menempel di dinding bukit. Syukurlah, batang yang melintang di badan jalan sudah ditebang sehingga kendaraan bisa melintas. Tapi jalan itu hanya muat untuk satu badan mobil saja. Ada beberapa titik terban lainnya di Kelok Ampek Puluh Ampek ini.

Selama melintasi Kelok Ampek Puluh Ampek, rasa was-was kembali menyertai. Beberapa titik longsor, terban, dan pohon tumbang menciptakan suasana mencekam sepanjang perjalanan.

Syukurnya, hingga tiba di kelok terakhir di bibir Danau Maninjau, perjalanan lancar. Lebih syukur lagi, sejak berangkat dari Padang Panjang hingga melewati Maninjau, cuaca lumayan baik, tidak cerah, tapi juga tidak hujan. Di Maninjau, beberapa rumah, ladang, dan sawah terkena galodo yang turun dari bukit. Sisa-sisa galodo berupa batu dan lumpur yang telah mengeras menutupi badan jalan, sehingga di dalam kendaraan tubuh terasa diguncang-guncang.

Dapat saya bayangkan betapa ngerinya suasana di sana saat bencana terjadi.

Memasuki perbatasan Kabupaten Pasaman Barat, di Kinali, hujan baru turun sederas-derasnya. Bahkan hingga tiba di Simpang Empat, hujan belum juga berhenti. Udara Pasaman Barat yang semula hangat menjadi agak sejuk karena hujan.

Hingga malam, hujan menyisakan rinai. Ketua FPL Pasaman Barat, Denni Meilizon, mengajak saya minum teh telur. Kami menjemput Eko Darmawan, seorang guru, konten kreator, sekaligus pegiat literasi Pasaman Barat. Banyak hal kami bicarakan malam itu: mulai dari kegiatan literasi, soal bencana, hingga industri kreatif di era kecerdasan buatan.

Di sela-sela percakapan, saya kembali memantau media sosial. Hujan lebat pada Ahad, 14 Desember 2025, ternyata kembali mendatangkan banjir bandang, khususnya di Padang. Di Batu Busuak, beberapa video amatir yang dibagikan warga memperlihatkan kondisi menyedihkan. Rumah-rumah kembali direndam banjir hingga tiga meter, padahal sebelumnya air mulai surut. Sungguh, derita warga korban bencana timpa-menimpa.

Itu di Batu Busuak, belum lagi daerah lain yang juga menjadi titik longsor dan banjir bandang. Air bah dari sungai-sungai yang meluap saat hujan deras berkepanjangan sering kali tak terkendali. Air meluber ke permukiman warga. Mulanya setapak kaki, lalu semata kaki, naik sebetis, terus ke dada, hingga menenggelamkan apa saja. Yang tersisa hanya atap-atap rumah.

Eko Darmawan malam itu juga bercerita bahwa ia baru kembali dari Sinuruik dan Talu, nagari di kaki Gunung Talamau. Di sana pun banyak warga terdampak bencana. Beberapa titik permukiman terisolasi. Warga kesulitan air bersih, sembako, dan bahan bakar minyak.

Semoga warga terdampak bencana diberi kekuatan dan kesabaran menghadapi ujian ini, serta keadaan lekas kembali normal.

Di Pasaman Barat, mulai 15—18 Desember 2025, saya melakukan sejumlah kegiatan literasi di beberapa tempat. Salah satunya atas undangan SMP IT Cahaya Makkah untuk mendampingi siswa menulis kreatif. Selain itu, bersama FPL Pasaman Barat, saya juga membedah buku cerpen Empasan Ombak Sikabau karya Rospiadi, M.Pd., serta menyinggahi beberapa taman bacaan di Kajai, Kinali, dan Ujuang Gadiang.

Berjalan dalam suasana musim bencana memang mencemaskan. Namun, di setiap perjalanan, saya melihat satu hal yang tetap bertahan: ikhtiar untuk saling menjaga, menguatkan, berbagi, dan terus menyalakan harapan.

Semua orang bekerja—baik warga terdampak maupun relawan yang berupaya menjangkau titik tersulit sekalipun—, dengan kemampuan masing-masing, berharap musibah tak lagi singgah, dan doa-doa terbaik terkabulkan. []

Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis.

Foto: Salah satu jembatan di kawasan Sungai Landia, menjelang Matur, Kabupaten Agam, yang terban dan dibangun jembatan alternatif dari batang kelapa, Ahad (14/12/2025). (Foto: Muhammad Subhan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Fenomena Sinkhole dan Krisis Literasi Masyarakat

11 Januari 2026 - 17:12 WIB

Untuk Apa Membangun Komunitas Literasi?

7 Januari 2026 - 10:44 WIB

Memahami Tabiat Alam dari Membaca Tiga Puisi Karya Taufiq Ismail

6 Januari 2026 - 12:27 WIB

Pariwisata Sumatera Barat, Ayo Bangkit Lagi!

5 Januari 2026 - 06:48 WIB

Bencana Alam, Cara Bumi Memulihkan Tubuhnya

4 Januari 2026 - 14:33 WIB

Trending di KOLOM