Dancesport Makin Diminati, IODI Padang Panjang Resmi Resmi Terbentuk Bahas Desain Sampul, Komunitas Seni Kuflet Matangkan Penerbitan Buku Puisi “Air Mata Sumatra” Anjing Pelacak yang Menjalankan Misi Kemanusiaan Itu Gugur di Medan Bencana Dari Gudang ke Galeri, dari Galeri ke Cuan Mahasiswa Prodi Seni Murni ISI Padang Panjang Gelar Pameran dari “Gudang ke Galeri” Menyalakan Semangat Menulis di Tubuh Birokrasi

KOLOM

Cahaya Literasi dari SMP IT Cahaya Makkah Pasaman Barat

badge-check


					Cahaya Literasi dari SMP IT Cahaya Makkah Pasaman Barat Perbesar

Oleh Muhammad Subhan

PADA Juli 2024, saya dihubungi Ketua Forum Pegiat Literasi (FPL) Pasaman Barat, Denni Meilizon. Ia menyampaikan undangan dari SMP IT Cahaya Makkah di Lingkuang Aua. Sekolah itu sedang menyambut siswa baru dan ingin mengadakan workshop kepenulisan. Setahun sebelumnya, saya sempat mendampingi Duta Baca Indonesia, Gol A Gong, yang melakukan Safari Literasi di beberapa sekolah di Pasaman Barat, termasuk sekolah ini.

Meski waktu itu jadwal saya lumayan padat oleh sejumlah kegiatan literasi, undangan tersebut saya penuhi. Pasaman Barat bukan tempat asing bagi saya. Di kaki Gunung Talamau yang menjulang, di Nagari Kajai, tepatnya di Kampung Pasir, ibu saya berasal. Maka, setiap langkah ke Pasaman Barat adalah pulang kampung bagi saya.

Tak lama setelah Denni Meilizon mengabari, saya dihubungi Kepala SMP IT Cahaya Makkah, Rospiadi, S.Pd.I., M.Pd.Gr. Ustaz Adi—demikian saya akrab menyapanya—dalam nada suaranya saya menangkap semangat yang mengalir jernih. Ia bercerita tentang cita-citanya menjadikan sekolah itu sebagai madrasah literasi, tempat ilmu dan pengetahuan tumbuh bersama budaya baca-tulis.

Ketika saya tiba di sekolah itu pada 17 Juli 2024, saya menemukan siswa-siswi yang begitu bersemangat menyimak, menulis, dan bertanya jawab. Usai saya memberikan teori menulis, mereka langsung menulis dengan semangat yang tak terbendung. Sebagian naskah mereka saya pilih, dan mereka saya minta membacakannya di depan teman-temannya. Tulisan-tulisan itu lahir dari hati, jujur, dan penuh empati.

Namun, yang lebih mengharukan adalah dukungan para guru. Mereka tidak sekadar mendampingi, tetapi ikut menulis dan menjadi bagian dari proses kreatif itu. Setahun kemudian, hasil semangat itu lahir dalam bentuk buku kumpulan cerpen berjudul Di Balik Layar Gedung Oren. Buku itu bukan sekadar catatan kegiatan, tetapi penanda bahwa literasi telah menemukan rumahnya di SMP IT Cahaya Makkah.

Tak berhenti di situ, para guru dan siswa terus melahirkan karya. Mereka menulis di media massa, membuat antologi bersama, dan menyiapkan penerbitan buku setiap tahun. Kepala sekolahnya sendiri memberi teladan. Tahun 2025 ini, Ustaz Adi menerbitkan kumpulan cerpennya berjudul “Empasan Ombak Sikabau”, sebuah karya yang menyuarakan pengalaman dan kehidupan kampung halamannya dengan gaya naratif yang lembut dan menyentuh. Buku itu menjadi sumber inspirasi baru bagi para murid dan guru.

Semangat berliterasi itu terus tumbuh. Program literasi yang dijalankan sekolah ini terbilang sistematis dan menyentuh seluruh unsur ekosistem sekolah. Setiap siswa wajib membaca minimal satu buku setiap bulan. Buku itu harus ‘khatam’. Setiap Sabtu menjadi hari literasi: siswa membaca, menulis, dan melaporkan hasil bacaannya. Kegiatan ekstrakurikuler diwarnai oleh pembacaan puisi dan penulisan cerpen yang sudah dipersiapkan oleh guru.

Tak hanya di dalam sekolah, siswa juga diajak berkunjung ke perpustakaan daerah dan melakukan tur literasi ke luar kota agar melihat dunia literasi yang lebih luas. Dua pekan lalu, saya turut menyambut seratusan siswa sekolah ini yang melakukan tur literasi ke Rumah Puisi Taufiq Ismail & Museum Sastra Indonesia di Aie Angek, Kecamatan X Koto, Tanah Datar. Setiap jam kosong, guru mendorong siswa untuk membaca atau menulis. Setiap akhir semester, mereka mengadakan pentas literasi—ajang unjuk karya dengan berbagai kegiatannya.

Sekolah ini juga menghidupkan kembali majalah dinding yang lama mati suri. Di sanalah karya siswa dipajang dan dibaca oleh teman-temannya. Dan yang tak kalah penting, setiap tahun SMP IT Cahaya Makkah menerbitkan buku karya bersama yang membuktikan bahwa literasi bukan slogan, melainkan budaya yang hidup dan berdenyut.

Sebagai bentuk penguatan kapasitas, pelatihan kepenulisan dilaksanakan minimal sekali dalam setahun. Sekolah menghadirkan penulis, pegiat literasi, praktisi, atau akademisi agar semangat menulis terus menyala. Saya bersyukur pernah menjadi bagian dari perjalanan itu.

Dalam geliat literasi sekolah ini, sosok Ustaz Adi memiliki peran sentral. Ia bukan hanya kepala sekolah, tetapi juga teladan literasi. Lahir di Sikabau, 19 Maret 1981, dari keluarga sederhana, ia tumbuh dengan nilai kerja keras dan keikhlasan. Setelah menamatkan SD di kampung halamannya, ia melanjutkan pendidikan ke MTsS Sikabau, lalu ke Pondok Pesantren Thawalib Putra Padang Panjang, tempat ia mengasah kedisiplinan dan kecintaan pada ilmu.

Tahun 2002, ia kuliah di IAIN Imam Bonjol Padang, Jurusan Pendidikan Agama Islam. Di semester enam, ia menikah dan tetap berjuang menuntaskan studi. Tahun 2007, ia diwisuda. Pada 2020, ia melanjutkan studi S-2 di UMSB dan lulus dua tahun kemudian. Perjalanan pendidikannya adalah cermin kegigihan.

Sejak 2008, ia mengajar di berbagai sekolah, termasuk SDIT Adzkia Padang, sebelum akhirnya pulang kampung dan bergabung di SMP IT Cahaya Makkah. Sejak 2019, ia dipercaya menjadi kepala sekolah. Sejak itu, wajah sekolah berubah—lebih dinamis, kreatif, dan visioner.

Ustaz Adi bukan hanya mengelola sekolah, tetapi juga menulis dengan kesungguhan. Karya-karyanya tersebar di berbagai media dan antologi: dari cerpen hingga puisi. Ia menulis dengan nurani seorang pendidik yang melihat muridnya bukan sekadar angka di rapor, melainkan manusia yang perlu disentuh dengan nilai dan harapan-harapan baru. Tersebab harapan itu, siswa-siswanya mengukuhkan cita-cita yang harus digapai setinggi langit sekalipun.

Ketika literasi menjadi napas sekolah, maka pendidikan bukan lagi sekadar rutinitas, melainkan perjalanan spiritual menuju pencerahan. SMP IT Cahaya Makkah telah memberi contoh bahwa budaya literasi bisa tumbuh dari sebuah sekolah di daerah bila ada kepemimpinan yang inspiratif dan komunitas yang mendukung.

Saya percaya, apa yang dilakukan Ustaz Adi dan rekan-rekan gurunya—yang tentu didukung yayasan yang menaungi sekolah ini—adalah api kecil yang akan menyalakan obor besar. Dari Lingkuang Aua, cahaya literasi itu akan terus menyala, menerangi Pasaman Barat, dan kelak menjadi bagian dari gerak literasi Indonesia yang lebih luas.

Tahniah, selamat untuk gerakan-gerakan literasi sekolah di SMP IT Cahaya Makkah. Semoga karya-karya literasi lainnya kian deras lahir dan mengalir dari sekolah ini, menjadi penyemangat bagi siapa saja yang memungut inspirasinya. []

Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, pendiri Sekolah Menulis elipsis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar

  1. Rospiadi

    Luarbiasa. Sangat memotivasi. Terimakasih majalah elipsis yang sudah berkontribusi

    Balas
semua sudah ditampilkan
Baca Lainnya

Anjing Pelacak yang Menjalankan Misi Kemanusiaan Itu Gugur di Medan Bencana

5 Desember 2025 - 10:26 WIB

Dari Gudang ke Galeri, dari Galeri ke Cuan

4 Desember 2025 - 08:15 WIB

Menyalakan Semangat Menulis di Tubuh Birokrasi

3 Desember 2025 - 07:41 WIB

Padang Panjang: Simpul Sumatera, Kota Pergerakan, dan Episentrum Bencana

2 Desember 2025 - 08:23 WIB

Padang Panjang, Selamat Berulang Tahun

1 Desember 2025 - 12:51 WIB

Trending di KOLOM