Nyala Literasi Ada di Tangan Pustakawan Pustakawan Profesi Mulia vs Uang Palsu Setiap Hari Pustakawan Wajib Baca Buku Minimal Setebal Seratus Halaman

Gelanggang

Bung

badge-check


					Bung Perbesar

Oleh Diana Rustam

BUNG berdiri sendirian menunggu kendaraan apa saja yang bersedia mengangkutnya ke kota. Ia berdiri di sebuah jalan sunyi, yang tiada rumah penduduk kecuali jalan raya yang diapit pepohonan. Suara serangga dan burung kecil bergantian menimpali kebisuan Bung.

Laki-laki muda yang sudah muak menjadi orang dusun itu sudah tidak bisa lagi menunda keinginannya, sebab usia akan terus bertambah dan ia bisa mati kapan saja. Sehingga, meskipun tidak memiliki bekal ongkos, Bung tetap membulatkan tekad untuk keluar dari dusun terpencil yang ia anggap nyaris membunuh masa depannya.

Sebuah truk pun tak masalah, pikir Bung. Apabila ia harus bersatu bersama karung-karung sayuran, itu juga tidak mengapa. Bung siap menderita asalkan bisa sampai di kota.

Namun, setelah menunggu lama, beberapa kendaraan yang coba ia hentikan tidak ada yang menanggapi. Entah Bung tidak terlihat atau, para sopir yang curiga bahwa ia adalah rampok yang suka beroperasi di tempat sunyi. Apabila dikatakan demikian, sungguh keliru. Soalnya tubuh Bung ceking laksana orang-orangan sawah. Roman mukanya sangat polos yang menggambarkan kemiskinan, kemelaratan, bukan kegarangan apalagi kebengisan.

Hari sudah sore, Bung putus asa. Ia menendang-nendang rumput liar yang menyentuh ujung sandal jepitnya. Ketika ia sedang asyik masyuk bersama rumput, tiba-tiba terdengar suara lenguh dan suara gemuruh dari arah kejauhan.

Bung melempar pandangan, tampak baginya seekor kerbau sedang menuju ke arahnya. Setelah begitu dekat jarak, kerbau itu melambatkan kaki dan menyapa Bung.

“Bung, mau ke mana?”

Bung terpesona. Seekor kerbau gagah nan perkasa sedang berbicara kepadanya. Dengan sepasang tanduk yang kokoh di kepalanya, kerbau itu tampak berwibawa.

“Kau tahu namaku?”

“Ya, Bung. Bung adalah sapaan kepada laki-laki dewasa mana saja yang belum diketahui namanya.”

“Jadi itu bukan sebuah nama?” Dahi Bung berkerut, ia merasa sangat kecewa kepada yang memberinya nama. Ternyata nama yang ia sangka selama ini adalah nama, rupanya bukanlah nama. Ia hanyalah sesuatu yang umum, tidak istimewa: seperti untuk membedakan mana buah dan mana sayur. Itu berarti Bung hanyalah orang yang berjenis kelamin laki-laki.

“Aku bisa memberimu tumpangan.” Kerbau menyela kegalauan Bung.

“Menumpang kerbau?”

“Kenapa?”

“Tapi saya bukan penggembala, dan saya tak punya seruling.”

“Baiklah, sekarang kau seorang penggembala. Dan karena kebetulan saja saya menemukanmu, maka tidak diperlukan seruling. Sekarang, ayo!” Kerbau menyilakan Bung menaiki punggungnya.

Mula-mula Bung ragu-ragu, tetapi melihat kesungguhan kerbau, Bung menjadi yakin.

Perjalanan yang panjang membuat Bung dan kerbau menjadi akrab. Kerbau menyenangi Bung karena Bung sangat lugu dan apa adanya. Sedangkan Bung menghormati kerbau karena kerbau berpengetahuan luas dan sangat mengusai jalan terjal yang mereka lewati. Rupanya jalan itu adalah jalan yang selalu dilewati kerbau.

“Apakah ini kota yang kau tuju?” Kerbau bertanya ketika mereka sampai di mulut sebuah kota. Bung terpukau, gemuruh dadanya, ia merasa bangga karena telah sampai di kota. Inilah pemandangan yang belum pernah ia saksikan, bahkan tidak pernah terpikir untuk membayangkannya. Tanpa menjawab karena begitu bernafsu, Bung ancang-ancang hendak melompat dari punggung kerbau. Tetapi, sebelum niat itu ia luluskan, kerbau lekas-lekas mencegah Bung.

“Jangan buru-buru kagum, Bung. Ini baru kota kecil, sangat kecil.”

“Maksudmu, masih ada yang lebih besar dan megah dari kota ini?”

Kerbau terkekeh. “Bung ini benar-benar kampungan. Baiklah, akan saya ajak Bung berkeliling untuk melihat-lihat.”

Kerbau lantas meneruskan langkahnya. Mereka melewati jalan raya yang bising, yang dipadati berbagai model kendaraan. Ada bangunan bertingkat, ada papan iklan, ada orang lalu lalang, dan macam-macam bau makanan dari warung-warung pinggir jalan. Bung terkagum-kagum dan kerbau dapat membaui perasaan yang setengah mati disembunyikan Bung itu, karena malu apabila ia begitu ekspresif, kerbau akan mencelanya lagi.

Kehadiran Bung dan kerbau yang ditungganginya membetot perhatian warga kota. Sebenarnya, warga kota terbagi dua kubu, ada yang terpukau pada kerbau yang perkasa, dan ada yang terkesima dengan sosok Bung yang sederhana. Warga kota saling adu pendapat, tetapi pada akhirnya mereka bersepakat bahwa, mereka melihat sebuah paduan yang pas. Seolah itu adalah pertanda bahwa kota mereka akan menghadapi masa depan yang cerah. Sehingga mereka menyambut Bung dan kerbau dengan meriah dan hati gegap gempita. Bung dan Kerbau dijamu, dipuji-puji, dan dituruti apa maunya. Pakaian Bung yang lusuh diganti dengan pakaian putih yang harum dan cemerlang. Kaki Bung dipakaikan sepatu dari kulit rusa.

Sayangnya, wajah Bung tetap begitu-begitu saja. Apa boleh buat, wajah memang tak bisa diubah. Tetapi Bung telah merasa tampan dan kerbau merasa bangga.

“Apakah kau ingin melihat kota yang lebih dari ini?”

“Kau mau mengantarku?”

“Selama Bung masih mau duduk di punggungku.”

Bung terharu, ia bersujud-sujud di kaki kerbau sebagai tanda terima kasih.

Mereka meninggalkan kota itu, lalu menuju ibu kota yang, alamak hampir-hampir membuat jantung Bung copot dan kedua biji matanya melompat. Lampu yang rupa-rupa warnanya menggantung di sana-sini. Ada kendaraan panjang yang melintas seperti seekor ular, ada burung besi yang berkicau di angkasa, ada bangunan yang pucuknya tak lagi tampak di mata Bung karena ditelan awan.

Kembali kerbau mengajak Bung berkeliling, dan orang-orang kota terpanah. Bung dan kerbau adalah pemandangan yang tak biasa, unik, antik, purba, atau sesuatu yang bukan benda tetapi simbol. Sehingga warga kota merasa perlu merawat dan memeliharanya bahkan menganggungkannya.

Seseorang laki-laki berbadan tegap datang menghampiri Bung, ia memberikan sebuah seruling. “Lengkaplah kau dengan seruling ini, Bung! Jadilah kau penggembala yang sebenarnya,” kata laki-laki itu dengan suara lantang. Sepertinya ia sudah terlatih untuk berteriak-teriak.

Kerbau tersenyum puas. Kini Bung telah diakui sebagai penggembala. Itulah yang ia cita-citakan sejak mula-mula.

“Tiuplah seruling itu, Bung Penggembala! Kami akan mengikutimu.” Laki-laki tegap kembali menggonggong.

Seruan laki-laki itu, kemudian beramai-ramai diikuti oleh orang lain. Mereka mendesak Bung untuk meniup seruling. Akhirnya, dengan rasa percaya diri, Bung meniup serulingnya. Semua orang kemudian bergerombol dari berbagai penjuru kota menuju suara itu. Kerbau berjalan, di punggungnya Bung terus meniup seruling. Ke mana kerbau dan Bung pergi, ke sana pulalah orang-orang melangkah.

Ketika Kerbau dan Bung melewati jalan yang licin, banyak orang tergelincir. Ketika Bung melewati jalan mendaki, banyak orang yang terjatuh. Tetapi sisanya tetap setia mengikuti Bung. Suara seruling itu menarik mereka ke sana kemari.

“Berhenti!” seru Bung tiba-tiba.

Kerbau terkejut. “Ada apa?”

“Kita sudah mengelilingi semua pelosok kota ini. Saya bosan.”

“Tidak. Kita harus berjalan! Dan kau harus tetap meniup seruling, karena apabila kita berhenti, maka gerombolan itu akan bubar, dan kita ditinggalkan.”

“Memangnya kenapa kalau kita ditinggalkan?”

“Bisa-bisa kita jadi gelandangan.”

“Gelandangan? Apa itu?”

“Tak punya siapa-siapa, tak punya apa-apa, diabaikan.”

Bung menggigil. Alangkah menyedihkannya hidup seperti itu setelah ia dimanjakan dengan banyak puji-pujian, pikir Bung.

“Ayo lekas tiup serulingmu, sebelum orang-orang itu pergi!”

Bung lantas meniup lagi serulingnya, tetapi menjadi kurang enak, sumbang, dan menjengkelkan di kuping kerbau. Rupanya Bung sedang berpikir bagaimana bisa lepas dari kerbau dan ia bisa melihat kota dengan cara yang lain.

“Tiup dengan benar!” Bentak Kerbau.

“Kenapa kau membentakku?” Bung kesal, ia merasa bahwa kerbau telah bertindak semaunya, seolah-olah kerbau telah memiliki kuasa atas dirinya. Bung bertanya-tanya, bukankah seharusnya ia yang berkuasa atas kerbau itu, karena ia pemegang seruling? Sang Penggembala.

Bung berhenti dari meniup seruling, lantas meloncat turun dari punggung kerbau. Ia pongah.

“Bagaimana bisa seekor kerbau berani mengaturku?”

“Hei, Bung, sudah besar kepala kau rupanya. Sayalah yang memungutmu di jalan!”

“Saya tak meminta. Waktu itu kau sendiri yang menawariku tumpangan.”

Kerbau mengumpat, “Tak tahu diri. Dasar kelomang!”

“Kau sendiri apa? Benalu? Sebenarnya, jika bukan karena aku yang duduk di punggungmu, kau hanyalah kerbau biasa yang mondar-mandir sendirian, tidak ada yang berminat memandangmu.”

Karena ulah mulut Bung yang ngebut, hati kerbau menjadi panas. Kerbau mengamuk. Tanduknya menyeruduk ke sana ke mari, mengoyak apa saja. Saat itu Bung mendengar suara elang yang nyaring di udara. Seekor elang yang besar, sayapnya mencakup permukaan kota. Bung berkhayal apabila ia berada di atas punggung elang itu untuk melihat kota dari atas. Bukan hanya kota, pikir Bung mengembangkan keinginannya kemudian, tetapi seluruh penjuru negeri.

Rupanya elang bisa mendengar suara hati Bung. Ia lantas menukik dan hinggap di atas sebuah tugu. Cakar besarnya yang mencengkeram beton, merontokkan beton itu. Bung terkagum-kagum. Kerbau terdiam. Dengkus kasar keluar dari hidungnya. Sementara mata Bung berbinar melihat sosok Elang.

“Hei, Bung! Mau terbang bersamaku?” Elang menyeru.

Lagi-lagi Bung terpesona, suara Elang sungguh berwibawa di telinganya. Tanpa menimbang-nimbang, tangan Bung enteng melempar seruling ke sebuah batu besar. Seruling pecah, terbelah menjadi dua. Bung bergegas memanjat tugu. Bersama perasaan bangga yang gemuruh di dadanya, Bung duduk di atas punggung elang.

“Tahukah, Bung? di tempat yang tinggi, Bung bisa dengan mudah mengawasi dan mengendalikan semua orang,” Kata Elang.

“Maksudmu, aku bukan hanya dikagumi, tapi juga patuhi?”

“Apakah Bung suka yang seperti itu?”

“Kalau perlu aku ingin ditakuti juga,” ujar Bung terkekeh.

Elang menanggapi, “Bersamaku Bung akan membentuk barisan, bukan sekadar gerombolan.”

“Bisakah begitu?”

Elang tersenyum. “Tentu, Bung. Kau akan jadi penentu. Asal kau terus di berada atas punggungku. Ingat, jangan pernah turun.”

“Kalau aku turun?”

“Kau akan kembali menjadi wajah di kerumunan.”

Bung mangut-mangut. Ia merasakan dicerahkan.

Laki-laki yang sebelumnya menyerahkan seruling, berseru dari bawah, “Bung, terimalah tali kekang ini, sekarang kau adalah Penunggang Elang. Sepanjang kau terbang, kami akan terus mendongak ke atas untuk memandangmu!”

“Kau dengar, Bung. Itu bukan sekadar kekaguman, tapi rasa hormat,” Kata Elang sambil merentangkan dua sayapnya.

Seruan itu Kemudian diikuti semua orang. Elang mengepak sayap, dan Bung terbang. Semua kepala mendongak. Kecuali kepala kerbau yang satu tanduknya sudah patah. []

Diana Rustam. Menulis cerpen dan puisi, saat ini berdomisili di Gowa, Sulawesi Selatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Baranginku

11 Januari 2026 - 14:29 WIB

Syal Merah di Genggaman

28 Desember 2025 - 12:58 WIB

Penjual Kupu-Kupu

21 Desember 2025 - 12:34 WIB

Nyotaimori

7 Desember 2025 - 11:41 WIB

Ombak yang Menyimpan Api

2 November 2025 - 20:26 WIB

Trending di Gelanggang