Nyala Literasi Ada di Tangan Pustakawan Pustakawan Profesi Mulia vs Uang Palsu Setiap Hari Pustakawan Wajib Baca Buku Minimal Setebal Seratus Halaman

ESAI

Bunda Literasi, Gerakan, Atau Sekadar Gelar?

badge-check


					Bunda Literasi, Gerakan, Atau Sekadar Gelar? Perbesar

Oleh Bachtiar Adnan Kusuma

ESAI tentang Bunda Literasi yang ditulis Muhammad Subhan, salah seorang penggerak literasi Sumatera Barat di Majalahelipsis.id berjudul “Bunda Literasi, Apa Kabar?” dan dibagikan di grup WhatsApp Forum Pustakawan dan Pegiat Literasi Indonesia beberapa waktu lalu, memantik penulis menurunkan tulisan ini sebagai refleksi dan catatan tentang Bunda Literasi di Indonesia. Tulisan ini, hemat penulis, amat strategis karena baru saja pemerintah menetapkan tanggal 7 Juli 2025 sebagai Hari Pustakawan Indonesia. Juga masih segar di ingatan kita HUT ke-66 Kabupaten Maros yang berhasil menggelar Festival Gau Maraja.

Pertama, Bunda Literasi tak sekadar slogan atau atribut, apalagi hanya status selempang yang dilekatkan pada ibu-ibu hebat Indonesia. Bunda Literasi memiliki peran dan tugas sebagai lokomotif peradaban berbasis satuan keluarga, satuan pendidikan, dan satuan masyarakat. Tugas Bunda Literasi memikul beban berat, selain wajib menjadi contoh yang patut ditiru, Bunda Literasi telah menjadi ‘role model’ penguatan ekosistem literasi berbasis keluarga.

Nah, sebagai Bunda Literasi, sebelum menjadi contoh dan teladan yang baik bagi masyarakat, ia terlebih dahulu harus memiliki hobi literasi. Tak sekadar pseudo literasi—literasi hanya sebatas semarak di panggung formal, festival yang menyebut literasi tetapi isinya sebatas seremoni, pesta tanpa melahirkan efek besar seperti anggaran negara yang dikeluarkan untuk membiayai kegiatan-kegiatan kolosal yang mengatasnamakan literasi.

Baca juga: Bunda Literasi, Apa Kabar?

Jujur, kita terjebak panggung formal: membentuk Bunda Literasi, tetapi mereka tidak tahu mau ke mana dan apa yang harus dilakukan. Padahal dibutuhkan satuan gerak dan langkah melalui hadirnya ‘grand design’ Aksi Bunda Literasi secara kolosal. Intinya, penulis menegaskan bahwa Bunda Literasi Indonesia membutuhkan petunjuk teknis agar mereka tidak bingung mau ke mana dan untuk apa mereka dikukuhkan menjadi Bunda Literasi.

Kedua, Bunda Literasi tidak bisa dilepas begitu saja pasca pengukuhannya. Penting sekali Bunda Literasi didampingi tim yang terdiri dari orang-orang yang memiliki kepedulian, kecintaan, dan kemampuan mengelola literasi sebagai jalan pengabdian.

Pertanyaannya, mengapa Bunda Literasi di Indonesia tidak bergerak signifikan?

Selain Bunda Literasi adalah status yang melekat pada istri gubernur, bupati, dan wali kota, rata-rata mereka adalah istri pejabat yang sibuk dan menyandang beberapa status bunda sekaligus. Misalnya, selain sebagai Bunda Literasi, ia juga Bunda PAUD, Bunda Stunting, Ketua Tim Penggerak PKK, dan lainnya. Di sinilah peran dan fungsi tim pendamping sebagai juru kampanye dan juru bicara Bunda Literasi, terutama dalam menyusun dan merancang aksi Bunda Literasi yang sesuai dengan tipikal dan karakter wilayah masing-masing.

Baca juga: Bunda Literasi, Ayo ke Taman Baca

Penulis memberi contoh Bunda Literasi Kabupaten Maros, Apt. Hj. Ulfiah Nur Yusuf Chaidir, S.Si., dan Bunda Literasi Lampung Tengah, Hj. Mardiana Musa Ahmad. Kedua figur Bunda Literasi ini meraih penghargaan Tertinggi Nugra Jasadharma Pustaloka Perpustakaan Nasional RI, kategori pegiat literasi, pada 2022 di Jakarta. Hj. Ulfiah Nur Yusuf Chaidir, dalam kedudukannya sebagai Bunda Literasi Kabupaten Maros, pasca dikukuhkan 10 Desember 2022, langsung membentuk Bunda Literasi di 103 desa dan kelurahan serta 14 Bunda Literasi kecamatan. Selain itu, Bunda Literasi Maros berhasil mendorong peran serta masyarakat dengan membentuk Relawan Bunda PAUD Maros dan Duta Baca Asosiasi Majelis Taklim Indonesia Kabupaten Maros di 14 kecamatan dan 103 desa serta kelurahan.

Apa yang menarik digugah dari Bunda Literasi Maros? Selain Bupati Maros Chaidir Syam memiliki perhatian dan kepedulian tinggi terhadap tumbuhnya ekosistem literasi di daerah yang dipimpinnya, ia juga memprakarsai terbentuknya Tim Pendamping Literasi Maros dengan SK Bupati Maros dan mendorong lahirnya Perda Literasi Maros. Tidak heran kalau gerak dan langkah Bunda Literasi Maros Hj. Ulfiah Nur Yusuf Chaidir telah menjadi role model nasional sebagai salah satu figur Ibu yang mendorong tumbuhnya budaya literasi dari setiap keluarga melalui kegiatan-kegiatan literasi berbasis masyarakat. Hj. Ulfiah Nur Yusuf, sebelum resmi menjadi Bunda Literasi, telah menyusun Grand Desain Aksi Bunda Literasi Maros yang dipaparkan di depan para kepala OPD, camat, kepala desa, lurah, serta DPRD Maros. Penulis bersyukur karena ikut serta melahirkan Grand Desain Bunda Literasi Maros.

Baca juga: Beban Berat Bunda Literasi

Beberapa waktu lalu, penulis juga diundang Bunda Literasi Lampung Tengah, Hj. Mardiana Musa Ahmad, berbicara dan menyaksikan langsung karya dan langkahnya memajukan literasi di Lampung Tengah.

Apa yang menarik dari Bunda Literasi Mardiana Musa Ahmad?

Ia memprakarsai berdirinya 1.000 titik TBM berbasis inklusi sosial budidaya cacing. Selain itu, Hj. Mardiana berhasil melakukan kunjungan ke 161 perpustakaan sekolah. Menariknya, karena Bunda Literasi Mardiana juga didampingi tim kerja dari PKK Lampung Tengah.

Dari kedua Bunda Literasi yang penulis gambarkan, di sisi lain Bunda Literasi Kota Makassar, Hj. Melinda Aksa Munafri, juga memiliki segudang asa dan keinginan memajukan literasi berbasis keluarga di Kota Makassar. Penulis salut karena Bunda Literasi Hj. Melinda Aksa Munafri, kendati baru saja dikukuhkan, punya pengalaman panjang sebagai pengusaha yang ikut terlibat langsung dalam dunia pendidikan dan perpustakaan lorong yang penulis gagas. Penulis menyampaikan terima kasih kepada Bunda Literasi Kota Makassar yang telah meluncurkan Gerakan Sayang Buku Ibu Suka Membaca Kota Makassar di SD Inpres Maccini Sombala 1 Makassar.

Sejatinya, Bunda Literasi membutuhkan tim kerja pendamping yang bertugas memberikan arah dan petunjuk. Idealnya, Bunda Literasi adalah tokoh sentral pembentuk ekosistem literasi keluarga. Status Bunda Literasi bukanlah jabatan formal; ia hanya status non-formal yang diharapkan bisa digugu, dicontoh, dan diikuti masyarakat. Bunda Literasi adalah bunda semua orang—bukan hanya bunda bagi anak-anak, tetapi juga bunda bagi remaja dan siapa saja yang mau diajak bergabung dalam barisan literasi Indonesia.

Baca juga: Literasi: Tantangan, Peluang, dan Jalan Pulang

Agenda aksi dan program Bunda Literasi tak sekadar seremoni—habis kegiatan, tidak membekas, tidak berkelanjutan. Bunda Literasi bertugas menghadirkan kegiatan aksi yang berkesinambungan. Misalnya, Bunda Literasi Maros menggerakkan ibu-ibu rumah tangga untuk membacakan buku kepada anak-anaknya sebelum tidur. Gerakan ini menjadi gerakan kebudayaan yang menumbuhkan budaya literasi sejak dini, bermula dari satuan keluarga. Selain itu, membentuk pojok baca dan relawan baca yang bertugas menggerakkan literasi dari hilir hingga ke hulu.

Banyak yang perlu dibenahi Bunda Literasi di daerah, terutama mendorong dari diksi ke aksi. Tentu dibutuhkan kemauan kuat serta kerelaan menyediakan waktu, pikiran, dan tenaga untuk membentuk ekosistem literasi yang masif, memasyarakat, dan berkelanjutan di seluruh Indonesia.

Penulis mengutip sebuah buku berjudul “Buku-buku yang Mengubah Dunia” karya Andrew Taylor, seorang jurnalis televisi, koran, dan majalah Sunday Times. Dalam bukunya, Andrew Taylor menempatkan dirinya sebagai petugas yang menantang untuk memilih dan mengikhtisarkan 50 buku paling penting dan berpengaruh dalam sejarah dunia.

Baca juga: “Mengeroyok” Komunitas Baca

Bagi umat Islam, wajib hukumnya berterima kasih kepada Imam Bukhari, Imam Hanafi, Imam Syafii atas jasa-jasanya mengumpulkan dan menulis hadist Nabi Muhammad saw., sehingga umat Islam berbahagia menikmati ibadah shalat dengan baik. Demikian pula di panggung dunia kedokteran, kita mengenal Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, yang telah memperkaya khazanah referensi ilmu kedokteran dengan karya-karya bukunya.

Benarlah apa yang dikemukakan seniman Austria, Franz Kafka, bahwa buku harus menjadi kampak untuk menghancurkan lautan beku di dalam diri manusia. Adapun lautan beku yang dimaksud adalah kebodohan manusia. Betapa pentingnya budaya membaca menjadi gaya hidup masyarakat. Ironisnya, budaya membaca belum tumbuh dengan baik di tengah masyarakat. Selain karena kita belum terbiasa berada pada pusaran literasi, di sisi lain masyarakat pra-literasi terjun bebas ke masyarakat pasca-literasi. Tak heran jika berbagai survei menunjukkan kemampuan membaca kita masih rendah. Padahal, UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 menegaskan pada Pasal 4 Ayat 5 bahwa pendidikan diselenggarakan dengan mengembangkan budaya membaca, menulis, dan berhitung.

Karena itu, Bunda Literasi perlu menggerakkan budaya membaca, tetapi tidak menanggalkan budaya menulis. Membaca dan menulis ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Seorang psikolog terkemuka Amerika Serikat, Pennebaker, menegaskan bahwa membaca dan menulis adalah dua sisi yang amat penting dalam proses pembudayaan. Hanya dengan budaya menulis yang tinggi bangsa Indonesia akan memiliki peradaban tinggi. Semoga. []

Bachtiar Adnan Kusuma
Ketua Tim Pendamping Literasi Maros, Ketua Forum Penerima Penghargaan Tertinggi Nugra Jasadharma Pustaloka Perpustakaan Nasional RI.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Seniman Aceh di Tengah Musibah: Bertahan dengan Segala Keterbatasan

20 Desember 2025 - 11:11 WIB

Menulis dan Seni Menaklukkan Diri

11 Desember 2025 - 09:16 WIB

Festival Sastra Jakarta Barat 2025: Rumah Pulang Kata, Tradisi, dan Kemanusiaan

8 Desember 2025 - 19:40 WIB

Dari Tonrong Bola, Marusu dan Manusia Bugis

8 Desember 2025 - 11:26 WIB

Sekolah Selayaknya Memiliki Sanggar Seni

22 November 2025 - 19:48 WIB

Trending di ESAI