PASAMAN BARAT, Majalahelipsis.id — Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Olalaa turut berpartisipasi dalam kegiatan bedah buku Bunga Rampai Budaya Lokal Pasaman Barat yang digelar di Kantor Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Pasaman Barat, Padang Tujuh, Selasa (18/11/2025).
Kegiatan berlangsung sejak pagi hingga sore, dengan antusiasme tinggi dari para peserta yang berasal dari berbagai kalangan.

Buku Bunga Rampai Budaya Lokal Pasaman Barat merupakan antologi karya 53 penulis lokal yang sebelumnya mengikuti Bimbingan Teknis Kepenulisan Budaya Lokal yang ditaja oleh Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Pasaman Barat.
Penerbitan buku melalui bimtek didampingi penulis Sumatra Barat, yaitu Muhammad Subhan, Denni Meilizon, dan Alizar Tanjung.
Para penulis dalam buku ini berasal dari latar belakang yang beragam, di anataranya siswa SMA/SMK, guru, hingga pegiat literasi yang menuliskan budaya daerah masing-masing menggunakan teknik feature.
Karya ini menjadi dokumentasi penting tentang kekayaan budaya Pasaman Barat. Setiap tulisan mengajak pembaca “berwisata” ke berbagai wilayah di Pasaman Barat, menikmati kearifan lokal mulai dari sejarah, tokoh, adat istiadat, hingga kuliner khas.
TBM Olalaa menjadi salah satu penulis yang berkontribusi dalam antologi ini dan menerima satu eksemplar buku dari Dinas Kearsipan dan Perpustakaan sebagai apresiasi.
Sebagai lembaga yang aktif dalam pengembangan literasi daerah, TBM Olalaa menyampaikan rasa bangga dapat ikut ambil bagian dalam upaya pendokumentasian budaya lokal ini.
Kegiatan bedah buku menghadirkan Ketua Forum Pegiat Literasi (FPL) Pasaman Barat, Denni Meilizon, serta konten kreator Eko Darmawan sebagai narasumber.
Sementara itu, Joel Pasbar, seorang penulis novel, bertindak sebagai moderator. Sebanyak 50 peserta mengikuti kegiatan ini, terdiri dari siswa SMA/SMK, mahasiswa, dosen, guru, serta pegiat literasi dari FPL Pasaman Barat.
Dalam sesi penutup, narasumber menyampaikan pesan mendalam mengenai pentingnya pendokumentasian budaya lokal.
“Ada banyak hal yang bisa dieksplor dari Pasaman Barat, terutama budayanya yang terdiri dari tiga etnis: Minang, Jawa, dan Mandailing. Banyak yang belum tertuliskan dengan baik. Sebelum hilang atau diklaim daerah lain, mari kita tulis sebagai bentuk cinta kepada daerah kita, Pasaman Barat, agar menjadi warisan bagi generasi berikutnya,” ujar Denni Meilizon.
Ditambahkan, kegiatan ini diharapkan dapat memotivasi lebih banyak masyarakat Pasaman Barat untuk terlibat aktif dalam gerakan literasi serta pelestarian budaya lokal melalui tulisan. (AAN/RLS)









