Oleh Muhammad Subhan
SAYA termenung melihat sebuah video pendek yang melintas di beranda medsos, dibagikan seorang relawan ketika ia datang ke sebuah daerah bencana. Relawan itu merekam momen saat seorang laki-laki warga setempat mencegat kendaraan yang membawa bantuan. Laki-laki itu tak berbaju, tubuhnya berbalut lumpur, dan dengan suara setengah putus asa ia berteriak, “Kami tidak butuh uang, kami butuh pakaian dan makanan. Kami lapar. Tolong kami!”

Si relawan yang merekam kejadian itu tersentak. Dengan panik ia mengabarkan kepada rekannya bahwa ada makanan di dalam mobil. Ia meminta temannya segera mengambil paket bantuan dan menyerahkannya kepada laki-laki tersebut.
Si lelaki menerimanya dengan tangan gemetar. Kedua bola mata berkaca-kaca. “Terima kasih,” ujarnya.
Video itu sungguh mengharukan. Kita menyadari bahwa sekaya apa pun seseorang, jika tinggal di daerah bencana, sebanyak apa pun harta ia miliki, harta itu tak benar-benar menolong. Emas yang disimpan, uang yang menumpuk di rekening, tak dapat dimakan. Tak bisa menjadi pakaian. Tak bisa menjadi penerang di malam yang gelap. Satu-satunya yang ditunggu adalah bantuan dari luar, apalagi jika daerah itu terputus akses jalan dan terisolir.
Dalam kondisi seperti itu, manusia kembali pada kebutuhan paling dasar: makan, minum, pakaian, tempat tinggal, dan rasa aman.
Kalaupun seseorang memiliki uang, ke mana uang itu hendak dibawa?
Tak ada warung atau toko yang buka karena ikut terendam banjir, tertimbun longsor, atau roboh diguncang gempa. Bahkan tak ada barang yang bisa dibeli secara online dan diantar ke tempat, sebab semua orang sedang berusaha menyelamatkan diri masing-masing. Ojek online pun tak bisa menembus banjir. Kurir pun tak mungkin berjalan di atas jalan yang sudah putus.
Itulah potret yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan daerah-daerah lain di negeri ini, bahkan di belahan dunia mana yang dilanda bencana.
Banjir menenggelamkan rumah-rumah, longsor menyeret kendaraan, gempa merobohkan bangunan, dan bencana lainnya datang beruntun tanpa permisi. Entah berapa banyak mobil mewah yang tak berdaya karena tertimbun longsor atau hanyut terbawa arus banjir. Entah berapa banyak rumah megah yang hancur rata dengan tanah, menyisakan puing yang tak lagi dikenali.
Pun ladang-ladang dan persawahan, seluas apa pun, tak mampu melawan murka alam. Tanaman habis disapu arus, tanah longsor menelan lahan-lahan produktif, dan musim panen berubah menjadi musim duka.
Alam, ketika ia marah, tak dapat diajak berdamai. Tidak peduli siapa kita. Tidak peduli seberapa besar kekayaan kita. Ia datang membawa pesan yang susah diterima manusia modern, bahwa kita hanyalah tamu di muka bumi ini.
Tidak hanya warga yang berada tepat di kawasan bencana yang merasakan dampaknya. Warga lain yang berada di titik aman namun berdekatan dengan lokasi bencana juga ikut terkena imbas. Dampaknya tak tanggung-tanggung: akses jalan terputus, aktivitas ekonomi melambat, harga-harga kebutuhan melambung tinggi karena pasokan tak mampu menembus wilayah terisolir.
Jika jalan-jalan utama di sebuah kota atau kampung terputus akibat banjir atau longsor, akses keluar menjadi mustahil. Orang-orang terkurung di wilayahnya sendiri. Akses dari luar pun sulit menembus masuk. Harus mencari jalan alternatif yang sering kali lebih jauh, lebih lama, dan lebih berbahaya. Itu pun kalau jalur alternatifnya aman. Jika tidak, daerah tersebut benar-benar menjelma seperti pulau kecil di tengah lautan luas yang terputus dari dunia luar.
Daerah terisolir akhirnya menderita dua kali lipat. Meski sebagian warganya tak terkena bencana langsung, mereka tetap terdampak. Bahan bakar minyak maupun gas menjadi langka. Orang antre di SPBU berjam-jam, bahkan seharian. Barang kebutuhan pokok menipis di pasaran, dan harga-harga melejit. Usaha-usaha produktif seperti toko kelontong, warung makan, kedai kopi, usaha pariwisata, hingga bisnis hotel terpaksa tutup sementara. Tidak ada konsumen. Tidak ada wisatawan. Tidak ada pemasok barang.
Kegiatan-kegiatan masyarakat yang semula meriah, mulai dari pasar, sekolah, hingga acara adat maupun kantor, terpaksa ditunda atau dibatalkan. Kota atau kampung mendadak seperti berhenti berdenyut. Seolah waktu ikut membeku bersama lumpur yang menimbun jalan dan rumah.
Dalam kondisi yang demikian getir, kita semakin sadar bahwa manusia sudah harus benar-benar insyaf dan serius memerhatikan alam. Alam bukan hanya tempat tinggal, ia adalah sistem yang memiliki batas toleransi. Ketika batas itu dilanggar, ia menegur dengan cara yang menyakitkan.
Sudah saatnya kita menjaga alam, memperbaiki tata lingkungan, dan membangun tata kota yang tidak hanya indah dilihat tetapi juga aman bagi penghuninya. Pemukiman-pemukiman yang berada tepat di jalur air, jalur longsor, galodo, atau aliran lahar dingin seharusnya tidak lagi ditempati. Pemerintah harus tegas. Bukan karena kejam, tapi karena kita tidak tahu kapan peristiwa serupa kembali terulang.
Literasi kebencanaan harus diperkuat. Anak-anak sekolah perlu memahami apa itu daerah rawan bencana. Warga harus tahu bagaimana membaca tanda-tanda alam. Pemerintah harus serius mengedukasi masyarakat tentang evakuasi, mitigasi, dan pencegahan. Jangan sampai kita hidup di negeri “ring of fire”, tapi bersikap seolah berada di negara yang bebas bencana.
Tata ruang dan tata kota pun harus disusun berdasarkan kajian ilmiah yang kuat, bukan sekadar keinginan membangun atau mengejar keuntungan sesaat. Sungai jangan lagi disempitkan. Hutan jangan lagi dihabisi. Lereng dan tepian sungai jangan lagi dipaksa menjadi perumahan. Pengamanan lingkungan harus menjadi syarat utama pembangunan, bukan sekadar lampiran teknis di akhir dokumen perencanaan.
Kalau tidak bertegas-tegas begitu, kelak ketika bencana datang lagi, manusialah yang harus berlari. Manusialah yang harus menangis. Manusialah yang harus kehilangan. Dan, kehilangan itu sungguh menyakitkan.
Di tengah semua duka itu, satu hal selalu menguatkan bahwa manusia tetap memiliki hati. Para relawan datang membawa harapan. Warga membangun solidaritas. Orang-orang dari jauh mengirim bantuan tanpa memikirkan balasan. Di antara puing-puing dan lumpur, kita menemukan kembali nilai kemanusiaan yang sering terlupakan ketika hidup terasa baik-baik saja.
Dan mungkin, inilah pelajaran paling penting dari setiap bencana, bahwa kita tidak pernah benar-benar kuat sendirian. Kita tidak bisa hidup sendirian, sekaya apa pun kita. Kita hanya kuat ketika saling peduli.
Semoga setelah ini kita lebih mencintai alam, lebih waspada, lebih arif membaca tanda-tandanya.
Semoga kita tidak mengulang kesalahan yang sama. Semoga kampung-kampung kita, kota-kota kita, tanah kelahiran kita, kelak menjadi tempat yang aman bagi anak cucu kita, tempat yang tidak membuat siapa pun berteriak, “Kami lapar! Tolong kami!”
Itu doa dan harapan yang semestinya bisa kita wujudkan, jika kita benar-benar mau belajar dari luka. []
Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis.
Foto: Truk-truk mengantre berjam-jam di tepi jalan sekitar SPBU Silaiang Bawah, Kota Padang Panjang, Rabu (10/12/2025). Terputusnya akses jalan nasional Padang—Padang Panjang akibat longsor di kawasan Lembah Anai dan Jembatan Kembar di batas kota Padang Panjang pekan lalu menyebabkan pasokan BBM ke kota itu terbatas. Bencana berdampak luas pada usaha-usaha produktif masyarakat yang kini kesulitan beroperasi. (Foto: Muhammad Subhan)









