Oleh Muhammad Subhan
HUJANNYA agak lain. Turun deras tiba-tiba, disertai badai. Badainya pun agak lain. Hujannya reda sebentar. Turun lagi. Lebih deras. Badai lagi. Terus begitu. Seolah langit kehilangan kesabaran menahan gumpalan awan gelap yang sudah berhari-hari menggantung di atas kepala. Setiap jeda yang diberikan hujan terasa hanya sebagai pengambilan napas sebelum kembali mengamuk.

Sungai-sungai meluap. Banjir tak dapat dihindari. Banyak rumah terendam air. Terutama rumah-rumah di bantaran sungai. Badai menumbangkan pohon-pohon. Suara ranting patah bersahut-sahutan dengan raungan angin.
Hujan dan badai itu juga menyebabkan longsor. Semua titik yang menghubungkan jalur utama Padang—Padang Panjang—Malalak—Bukittinggi—Solok—Lubuk Basung, longsor. Akses lalu lintas pun tertutup. Kendaraan umum, pribadi, truk berbadan besar, terpaksa parkir panjang berjam-jam, bahkan sehari semalam, menunggu akses dibuka kembali.
Di jalur utama Padang Panjang, longsor besar menimbun ruas jalan di gerbang masuk kota. Puluhan KK diungsikan di kawasan ini. Suasana mencekam. Ada korban tertimbun dan hilang.
Sepekan terakhir saya melintasi jalan-jalan itu. Beberapa hari lalu saya berangkat siang ke Kota Pariaman, memenuhi undangan Perpustakaan Umum Kota Pariaman yang menghelat Festival Literasi. Saya lintasi kawasan Lembah Anai. Hujan turun deras. Setiba di Lembah Anai, tiba-tiba saya teringat sepatu saya tertinggal di rumah. Padahal sudah saya bungkus plastik, agar tak basah. Tak mungkin saya tak bersepatu mengisi acara. Saya putar sepeda motor, balik ke Padang Panjang.
Lumayan jauh jalur ditempuh. Jauh bukan karena jarak, tetapi kawasan ini kawasan paling rawan, apalagi di saat hujan. Macet terjadi karena truk-truk bertubuh besar bersisian dengan truk lainnya, sehingga memakan badan jalan, menyebabkan macet. Air dari bukit juga turun deras. Macet itu menjadikan waktu menjadi lebih panjang. Setiap detik terasa lebih menegangkan ketika melihat tebing yang mencekam dan mengilat ditampar curahan air.
Setelah sepatu saya ambil di rumah, saya balik kembali. Melintasi Silaiang, ke Singgalang Kariang, hingga Lembah Anai. Curahan hujan yang tinggi menyebabkan debit air menjadi besar. Tumpahan air raksasa itu memenuhi kolam tampung di bawah air terjun itu. Syukurnya, saya berhasil melewati titik itu, dan sempat merekam melalui kamera gawai derasnya air terjun dari jarak beberapa meter di titik aman.
Sore harinya, dari sebuah penginapan di Pariaman, saya melihat banyak video tentang air terjun Lembah Anai yang meluap ke jalan raya. Ratusan kendaraan terhadang air yang melimpah dan menggelegak. Tak bisa jalan. Berjam-jam lamanya hingga malam. Saya bersyukur karena dapat melewati kawasan itu. Seperti ada dorongan bahwa saya harus segera ke Pariaman siang itu juga, meski hujan deras. Drama sepatu tertinggal itu entah apa hikmahnya. Yang pasti, titik rawan bencana itu dapat saya lewati.
Sehari setelahnya, sesudah mengisi talkshow literasi di Perpustakaan Umum Pariaman, saya pulang. Melintasi kawasan itu lagi. Arus lalu lintas sudah mulai lancar. Air terjun Lembah Anai kembali “bermain-main” di dalam kolam tampungnya meski tetap dengan debit tinggi.
Sebelum ke Pariaman, saya juga mengunjungi Kota Solok, Kabupaten Solok, dan Kota Sawahlunto. Dalam hujan pula. Di beberapa titik, kota-kota ini juga rawan bencana. Syukurnya semua dapat saya lewati dengan baik hingga acara selesai. Alhamdulillah. Terima kasih, Ya Rabbi.
Namun, pagi tadi, Kamis, 27 November 2025, saat hendak mengisi Pelatihan Menulis Kreatif di SMK Negeri 1 Baso, Kabupaten Agam, melewati Kota Bukittinggi, seorang teman saya dari Universitas Bung Hatta di Padang, Indrawadi, mengabarkan telah terjadi longsor di kawasan Silaiang Kariang, menjelang Padang Panjang. Ia mendapat kabar malam hari dari media sosial. Saya periksa beberapa akun media di Instagram. Benar, ada longsor di Singgalang Kariang tadi malam, membuat kendaraan dari arah Padang tidak dapat melintas.
Beberapa hari sebelumnya, saya dan Indrawadi berjanji dan berencana hadir bersama di SMK Negeri 1 Baso. Indrawadi sudah menyiapkan hadiah doorprize dari kampusnya. Tapi ia batal datang karena kondisi alam tidak memungkinkan. Pagi itu pula saya kontak guru di SMK Negeri 1 Baso, Irwan Setiawan, apakah kegiatan tetap dilanjutkan, mengingat cuaca tidak bersahabat. Rupanya, di Baso, cuaca masih sedikit dapat “diajak berkompromi” meski tetap hujan. Pelatihan terus berlanjut, dan saya bergegas ke sana. Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar hingga acara usai.
Di saat makan siang, saya buka kembali medsos. Rupanya, sekitar pukul 11.52 WIB, telah terjadi galodo dan longsor di gerbang utama Padang Panjang. Galodo itu besar. Luapan sungai di batas kota meninggi, air dari dinding bukit turun meluncur. Konon ada korban jiwa warga dan pengguna jalan. Jalan utama Padang—Padang Panjang dan sebaliknya kembali putus total.
Saya ingat, peristiwa serupa pernah terjadi pada musibah gempa besar 30 September 2009. Kawasan ini juga dihondoh galodo saat itu. Saya masih menjadi wartawan aktif di sebuah koran harian di Padang. Saya reportase bencana itu. Dan membayangkan lagi, saya kembali bersyukur sebab beberapa hari lalu bisa melintas dengan selamat sebelum bencana datang. Namun, di sudut hati, sungguh saya terenyuh dan bersedih. Galodo kali ini kembali menimbulkan korban jiwa.
Akibat putusnya jalur utama itu, ratusan kendaraan mematung dan mengular panjang. Aparat gabungan menutup jalan demi keselamatan. Alat-alat berat diturunkan, baik oleh Pemerintah Provinsi Sumatra Barat maupun Pemerintah Kota Padang Panjang. Hujan masih mengguyur deras, disertai angin kencang. Hujan di Padang Panjang lebih mengganas daripada yang saya rasakan di Pariaman, Agam, Solok, atau Sawahlunto. Rumah-rumah merembes kemasukan air. Beberapa pohon patah dan tumbang. Hujan terus-menerus, tak kenal pagi, siang, sore, maupun malam.
Cuaca demikian membuat pemerintah daerah meliburkan sekolah. Keputusan yang sangat tepat. Cuaca ekstrem sungguh membahayakan bila siswa dibiarkan ke sekolah. Meminimalkan korban adalah upaya paling mulia dalam situasi seperti ini.
BMKG sebelumnya sudah mengingatkan masyarakat Sumatra Barat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem hingga 29 November 2025 mendatang. Hujan deras disertai badai dipicu dinamika atmosfer beberapa hari terakhir. Tidak hanya Sumatra Barat, kondisi serupa terjadi di hampir seluruh wilayah Sumatra, khususnya Aceh dan Sumatra Utara. Foto dan video di media sosial memperlihatkan longsor, banjir bandang, dan rumah-rumah yang diterjang luapan sungai. Bahkan, korban jiwa diberitakan bertambah.
Tak ada tanggal khusus untuk bencana, dan musibah bisa datang kapan saja. Karena itu kewaspadaan adalah kunci. Bukan kewaspadaan yang membuat kita takut, tetapi kewaspadaan yang membuat kita lebih siap: menyiapkan diri, keluarga, dan lingkungan. Kita harus menjaga keselamatan diri, mematuhi imbauan aparat, tidak memaksakan perjalanan ketika cuaca ekstrem, dan mengetahui titik-titik rawan bencana di daerah kita sendiri.
Kesabaran pun dibutuhkan. Cuaca ekstrem sering membuat banyak rencana tertunda, perjalanan terhambat, dan aktivitas terhenti. Namun, keselamatan jauh lebih penting dari apa pun yang kita kejar. Kita harus menerima bahwa alam sedang bekerja dalam kekuatannya, dan manusia hanya bisa merendah diri, mengambil hikmah dan langkah bijak untuk tetap aman.
Masyarakat juga perlu mengikuti informasi terbaru dari media massa terpercaya maupun media sosial yang kredibel. Waspadi informasi palsu (hoaks) yang bermunculan saat bencana. Hoaks hanya menambah kepanikan. Bila tidak yakin, jangan sebarkan. Lebih baik menahan diri daripada menjadi bagian dari penyebar kabar bohong yang merugikan orang banyak.
Bencana mengajarkan bahwa manusia perlu saling menguatkan. Kita harus saling menjaga. Saling mengingatkan. Saling membantu. Di balik derasnya hujan, badai, dan galodo, ada pelajaran tentang betapa rapuhnya kita sebagai manusia, namun juga betapa kuatnya kita bila saling menopang.
Semoga kita semua diberi keselamatan, kekuatan, dan kesabaran menghadapi musim yang tak menentu ini. []
Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis.









