Oleh Sigit Candra Lesmana
HANYA suara jam di dinding dan jangkrik di luar yang memenuhi ruang tamu. Nur dan ibunya hanya bisa terdiam seribu bahasa setelah ayahnya pergi dan menarik tuas gas motor dua taknya dengan kasar. Belum kering air mata yang mengalir di kedua pipinya. Belum hilang kebas dari telinganya karena bentakan ayahnya.

“Ibu hanya orang desa biasa, tak berpendidikan seperti kamu, tapi Ibu tahu maksud ayahmu itu baik,” ucap ibunya setelah beberapa lama dan berlalu menuju kamar.
Nur tak membalas, dia terdiam dan memang hanya itu yang bisa dia lakukan. Takut hardikan yang membuat hatinya hancur itu juga meluncur dari mulut ibunya jika dia tetap memilih untuk bersuara, meskipun selama ini dia mengenal ibunya sebagai seorang wanita yang penyayang.
*
Satu jam sebelumnya rumah kecil berdinding anyaman bambu itu kedatan seorang tamu. Kabarnya dia seorang juragan tempe dari desa sebelah. Setelah berbincang-bincang dengan ayah Nur dan menikmati sajian di meja, tamu itu pamit.
“Nuuur!” panggil ayahnya setelah suara deru motor matic yang dikendarai tamu itu tak terdengar lagi. Nur segera beranjak dan duduk di dekat ayahnya.
“Tadi itu Pak Burawi, orang Desa Lembengan. Beliau ternyata masih saudara Pak RT. Kedatangannya kemari karena mendapat info bahwa kamu sudah lulus SMA. Nah, anaknya ternyata sudah lama suka sama kamu, maka sebagai lelaki baik-baik dia meminta ayahnya untuk menemui Bapak.”
Jantung Nur seakan ingin berhenti mendengar ucapan ayahnya barusan. Apa yang dia takutkan selama ini sepertinya akan terjadi. Bernasib sama seperti perempuan muda lain di desa ini, nikah muda.
“Bapak kira kamu memang sudah saatnya untuk menikah. Dilihat dari cara bicara Pak Burawi dan langkah yang diambil, Bapak rasa mereka keluarga baik-baik, hari Sabtu depan Bapak berencana untuk ke rumah Pak Burawi sekalian kamu kenalan juga.”
““Tapi, Nur belum mengenal anak Pak Burawi itu, Pak,” suara Nur sedikit bergetar.
“Maka dari itu, sabtu besok Bapak rencananya ingin mengenalkan kamu.”
“Nur belum siap, Pak,” Nur menatap lekat-lekat lututnya yang saling menempel erat.
“Belum siap gimana, Nur? kamu kan sudah dewasa, sudah lulus SMA, masih mau ngapain lagi?”
Nur terdiam sejenak, matanya tetap terpaku pada kedua lutunya yang menempel semakin erat. Sementara itu kedua tangannya meremas-remas roknya yang berbahan kain katun. Setelah menghela napas dua kali, Nur membuka mulutnya.
“Nur, masih ingin kuliah, Pak!”
Mata ayahnya sedikit melotot mendengar perkataan Nur. Tak disangka sama sekali bahwa anaknya memiliki keinginan seperti itu. Tak ada pembicaraan apa-apa selama ini mengenai perkuliahan. Lagi pula di desa itu wanita yang menempuh pendidikan tinggi bisa dihitung dengan jari. Itu pun yang berasal dari keluarga yang sangat berkecukupan. Orang biasa seperti ayah Nur tak pernah berkeinginan seperti itu, bahkan terlintas pun tidak.
“Bapak bukannya melarang, tapi biayanya dari mana, Nur?”
“Saya bisa cari beasiswa, Pak. Ada beasiswa dari pemerintah yang menggratiskan biaya perkuliahan.…”
“Nuur,” ucap ayahnya menghentikan rangkaian kata-kata yang keluar dari mulutnya, “Biaya kuliah bukan hanya masalah bayar kuliah saja, tapi banyak biaya lainnya. Bapak tidak pernah kuliah, tapi dari yang pernah Bapak dengar ada banyak biaya lainnya, seperti indekos, makan sehari-hari dan transportasi.”
“Tapi, Nur tidak akan kuliah di luar kota, Pak!” Nada bicara Nur sedikit meninggi.
“Meskipun di dalam kota, Nur. Rumah kita ini di desa pelosok. Jauh dari kota, mau naik apa ke sana. Kendaraan di rumah ini cuma satu dan Bapak pakai untuk ngarit setiap hari, mau jalan kaki, kamu?!” suara ayah Nur juga ikut meninggi.
Nur tidak berani menjawab pertanyaan ayahnya. Memang benar adanya kendaraan yang mereka punya hanya satu dan dipakai untuk mengangkut rumput. Di kandang belakang rumah, ada dua ekor sapi yang harus diberi pakan setiap hari.
“Sudah! hari Sabtu besok ikut Bapak ke rumah Pak Burawi.”
“Nur masih terlalu muda untuk menikah, Pak,”
“Kamu sudah cukup umur untuk menikah, Nur. Apa kamu mau jadi perawan tua dan jadi omongan orang-orang?” Urat leher ayah Nur menyembul keluar serupa cacing tanah.
“Sudah, Pak sudah,” Ibu Nur terbirit-birit menghampiri suaminya yang sedang mendidih itu.
“Bapak tidak mau tahu, pokoknya kamu harus nurut apa kata Bapak!”
Ayahnya lalu beranjak ke luar menghidupkan motor dua tak itu, lalu menarik tuas gas dengan kencang. Meninggalkan Nur yang terisak-isak di pelukan ibunya.
*
Perkenalan itu berlangsung singkat. Tak sampai dua jam kelurga Nur kemudian pamit pulang. Pembicaraan mengenai tanggal pertunangan akan dibicarakan segera di lain waktu. Wajah masam tetap melekat di wajah Nur sejak keberangkatan hingga tiba kembali di rumahnya. Setibanya di rumah, Nur langsung masuk ke kamar dan menutup pintu.
“Bagaimana, Pak?” Tanya ibunya sembari membawakan secangkir kopi untuk suaminya yang duduk di teras.
“Lancar, Bu. Tapi Nur sepertinya tetap tidak mau, coba kamu terus bujuk dia,” ucapnya sembari menyeruput kopi yang masih mengepulkan uap.
“Sudah saya bujuk berkali-kali, Pak, tapi Nur tetap tidak mau bicara.”
“Tak apa-apa, terus saja bujuk, lama-lama akan luluh juga.”
“Assalamualaikum.…” Ucap seseorang yang tiba-tiba datang.
“Waalaikumsalam. Duduk, Mat. Bu, tolong bikinkan kopi satu lagi, ya!” Ibu Nur segera beranjak ke arah dapur meninggalkan para lelaki itu.
“Nggak usah repot-repot.”
“Cuma kopi, kok. Tumben main ke sini, ada apa?”
“Kudengar-dengar sapimu beranak lagi, sudah berapa bulan?”
“Masih sepuluh bulan, masih kecil.”
“Ah… sudah cukup itu, mau dikawinkan dengan sapi jantanku? Limousin lo,” ucap pria itu dengan meyakinkan sembari menunjukkan otot bisepnya.
“Jangan, masak sekecil itu sudah mau dikawinkan, belum cukup umur,” tolak Ayah Nur.
“Tunggu apa lagi? Kalo beranak kamu akan punya sapi keturunan Limousin asli!”
“Tidak, nanti kalau sudah umur satu setengah tahun, baru kamu datang lagi ke sini.”
Rupanya pembicaraan kedua pria mengenai perkawinan sapi itu merambat di udara dan masuk ke kamar Nur melalui sela-sela dan hinggap di gendang telinganya. Tak hanya hinggap, rangkaian kata-kata itu masuk ke lubang telinganya dan melalui aliran darah menghujam tepat ke arah jantungnya. Perih.
“Belum cukup umur,” ucap Nur, matanya kembali berkaca-kaca.[]
Jember, 17 Februari 2025

Sigit Candra Lesmana. Pria kelahiran Jember, 12 Maret 1992. Saat ini bekerja sebagai penulis lepas. Senang menulis artikel, cerpen dan puisi. Beberapa cerpennya memenangkan lomba dan diterbitkan di beberapa media seperti Janang.id, Kedaulatan Rakyat, Suara NTB, Kurungbuka.com, Sastramedia.com, dan Langgampustaka.com. Aktif berkegiatan di Forum Lingkar Pena cabang Jember dan Prosa Tujuh.
Gambar ilustrasi diolah oleh tim redaksi Majalahelipsis.id menggunakan teknologi AI.
Ikuti tulisan-tulisan Majalahelipsis.id di media sosial Facebook dan Instagram. Dapatkan juga produk-produk yang diproduksi Sekolah Menulis elipsis seperti hoodie, kaus, atau buku. Khusus pelajar, mahasiswa, dan kalangan umum berstatus pemula yang berminat belajar menulis kreatif dapat mengikuti kelas di Sekolah Menulis elipsis. Hubungi Admin di nomor WhatsApp 0856-3029-582.









