Dancesport Makin Diminati, IODI Padang Panjang Resmi Resmi Terbentuk Bahas Desain Sampul, Komunitas Seni Kuflet Matangkan Penerbitan Buku Puisi “Air Mata Sumatra” Anjing Pelacak yang Menjalankan Misi Kemanusiaan Itu Gugur di Medan Bencana Dari Gudang ke Galeri, dari Galeri ke Cuan Mahasiswa Prodi Seni Murni ISI Padang Panjang Gelar Pameran dari “Gudang ke Galeri” Menyalakan Semangat Menulis di Tubuh Birokrasi

KOLOM

Banjir

badge-check


					Banjir Perbesar

Oleh Muhammad Subhan

BEBERAPA hari terakhir, sejumlah wilayah di Indonesia dilanda banjir.

Air sungai meluap. Air laut merembes ke daratan. Hujan deras turun tanpa henti. Tanah tidak lagi mampu menyerap air.

Banjir menggenangi rumah warga. Air masuk ke dalam mal. Lalu lintas lumpuh. Listrik mati. Sekolah tertunda. Pemakaman turut terendam. Kehidupan sehari-hari terhenti.

Ada yang kehilangan harta benda. Ada yang kehilangan tempat tinggal. Ada yang kehilangan nyawa.

Banjir tak hanya tentang air yang menggenang. Ia tentang kehilangan, tentang derita yang panjang.

Mengapa banjir terjadi?

Salah satu sebab, hutan ditebang. Pohon-pohon tumbang. Tanah kehilangan penjaganya. Tak ada akar yang mengikat air. Hujan deras turun, tanah longsor, air meluap. Tak terbendung lagi.

Perbukitan berubah fungsi. Dulu hijau, kini beton dan vila. Resapan air berkurang. Air hujan mencari jalan lain. Sungai meluap, kota-kota terendam. Air mata menjadi telaga.

Manusia membangun tanpa batas. Tanah dikapling-kapling. Alam dipaksa tunduk. Sungai disempitkan. Sampah dibuang sembarangan. Air tak punya jalur untuk mengalir.

Lalu, manusia pun panik ketika air itu membalas.

Banjir bukan sekadar bencana. Ia adalah teguran. Bumi telah rusak.

Burung kehilangan sarang. Ikan kehilangan sungai. Rusa kehilangan hutan. Sebab banjir, ada orang memancing bukan di kolam, tapi di jalan raya.

Air bah tidak hanya menelan rumah, tapi juga merenggut kehidupan makhluk lain. Manusia tak hidup sendiri. Alam bukan milik satu spesies saja.

Kita harus sadar. Kita tak boleh serakah. Kita harus peduli.

Maka, ayo, mulai menanam kembali pohon yang hilang. Menjaga sungai tetap bersih. Tidak membangun di sembarang tempat. Menghormati keseimbangan alam.

Banjir membawa derita, tapi juga memberi pelajaran. Tentang kesabaran. Tentang keikhlasan. Tentang gotong royong.

Warga saling membantu. Rumah dibuka untuk pengungsi. Dapur umum didirikan. Air bersih dibagikan. Orang-orang bahu-membahu menghadapi musibah ini.

Di tengah genangan air, ada kehangatan. Ada kepedulian. Ada harapan.

Bencana ini harus menjadi pengingat. Jika kita terus merusak alam, banjir akan datang lagi. Jika kita tetap abai, penderitaan akan berulang.

Kini, saatnya berubah. Mulai dari diri sendiri. Mulai dari langkah kecil. Demi bumi yang lebih baik. Demi masa depan yang lebih aman. []

Gambar ilustrasi diolah oleh Majalahelipsis.id menggunakan Bing Image Creator.

Ikuti tulisan-tulisan Majalahelipsis.id di media sosial Facebook dan Instagram. Dapatkan juga produk-produk yang diproduksi Sekolah Menulis elipsis seperti hoodie, kaus, atau buku. Khusus pelajar, mahasiswa, dan kalangan umum berstatus pemula yang berminat belajar menulis kreatif dapat mengikuti kelas di Sekolah Menulis elipsis. Hubungi Admin di nomor WhatsApp 0856-3029-582.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Anjing Pelacak yang Menjalankan Misi Kemanusiaan Itu Gugur di Medan Bencana

5 Desember 2025 - 10:26 WIB

Dari Gudang ke Galeri, dari Galeri ke Cuan

4 Desember 2025 - 08:15 WIB

Menyalakan Semangat Menulis di Tubuh Birokrasi

3 Desember 2025 - 07:41 WIB

Padang Panjang: Simpul Sumatera, Kota Pergerakan, dan Episentrum Bencana

2 Desember 2025 - 08:23 WIB

Padang Panjang, Selamat Berulang Tahun

1 Desember 2025 - 12:51 WIB

Trending di KOLOM