Nyala Literasi Ada di Tangan Pustakawan Pustakawan Profesi Mulia vs Uang Palsu Setiap Hari Pustakawan Wajib Baca Buku Minimal Setebal Seratus Halaman

BERITA

Banjir dan Longsor Berdampak Bagi Dunia Kesenian Aceh, Dr. Afifuddin: Kami Berusaha Bangkit

badge-check


					Banjir dan Longsor Berdampak Bagi Dunia Kesenian Aceh, Dr. Afifuddin: Kami Berusaha Bangkit Perbesar

BANDA ACEH, Majalahelipsis.id — Air bah dan longsor tidak hanya merendam dan merobohkan rumah, memutus jalan, dan melumpuhkan listrik di sejumlah wilayah Aceh. Bencana itu juga menyeret kesenian Aceh ke dalam lumpur duka.

Di balik angka korban dan bangunan rusak, ada sejumlah seniman yang kehilangan alat hidupnya, kehilangan ruang berkarya, bahkan kehilangan orang-orang tercinta.

“Ini bukan sekadar bencana alam. Ini pukulan berat bagi dunia kesenian Aceh,” ujar Dr. Teuku Afifuddin, M.Sn., Ketua Dewan Kesenian Aceh (DKA), dengan suara tertahan, saat dihubungi Majalahelipsis.id, Sabtu (13/12/2025), di tengah keterbatasan jaringan dan listrik yang kerap padam di Aceh.

Data sementara yang dihimpun DKA dari kabupaten dan kota terdampak di Aceh menunjukkan, 103 seniman menjadi korban bencana. Dua di antaranya dilaporkan meninggal dunia, meski masih dalam proses verifikasi.

Selain itu, tak kurang dari 15 sanggar seni rusak diterjang banjir. Alat-alat kesenian yang selama ini menjadi jantung denyut tradisi ikut hancur, di antaranya sekitar 350 unit Rapai Pasee, 100 Rapai Musik, dan 300 Rapai Geleng terendam air dan lumpur.

“Rapai bukan sekadar alat musik. Ia adalah identitas, ingatan kolektif, dan napas kebudayaan Aceh,” kata Afif, sapaan akrab Teuku Afifuddin.

Dia mengatakan, ketika rapai rusak dan tak bisa dimainkan, frekuensi pagelaran menurun. Jika dibiarkan, kesenian ini bisa masuk kategori terancam punah.

Di lapangan, ungkap Dr. Afifuddin, kisah-kisah pilu datang bertubi-tubi. Seorang seniman di Takengon terjebak longsor di kawasan Jalan Bintang–Serule selama empat hari, terisolasi tanpa kepastian.

Tim DKA memantau kondisi banjir di Aceh yang terjadi sejak 26 November 2025 lalu. (Foto: Dok. DKA)

Trauma menyelimuti para seniman yang selama ini terbiasa berdiri di panggung, kini harus bertahan di pengungsian.

Ada pula kabar yang lebih menyayat. Ibu dari seorang seniman Ceh Merpati meninggal dunia akibat syok setelah mendengar kabar anaknya terjebak longsor.

“Kami semua trauma,” ujar Dr. Afifuddin lirih. “Bukan hanya fisik yang lelah, tapi batin kami juga terkoyak,” katanya lagi.

Bencana juga memaksa sejumlah tokoh seni meninggalkan rumahnya. Di Aceh Tamiang, Nuriza Auliatami, mantan Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Aceh Tamiang, harus mengungsi ke Langsa setelah rumahnya disapu banjir.

Sementara di Kota Langsa, Ketua DKA setempat, Freddy Alam Sunjaya, selamat hanya dengan baju di badan.

Di tengah kondisi itu, papar Dr. Afifuddin, kerja pendataan menjadi perjuangan tersendiri. Jaringan internet yang putus, listrik yang kerap padam, serta BTS seluler yang tak berfungsi membuat komunikasi terhambat.

“Kami masih terus mendata. Angka ini sangat mungkin bertambah,” kata Dr. Afifuddin.

Selama ini, DKA bergerak dengan swadaya pengurus dan donatur, termasuk untuk menjangkau lokasi terdampak.

Yang paling mendesak saat ini, menurut Dr. Afifuddin, adalah kebutuhan dasar seperti sembako, air bersih, dan dukungan psikososial.

Namun, bagi para seniman, ada kebutuhan lain yang tak kalah penting, yaitu pemulihan alat kesenian.

“Tanpa itu, tradisi hanya akan tinggal cerita,” tegasnya.

Atas dasar itu, DKA telah menyampaikan laporan kepada Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, memohon dukungan dan perhatian.

“Sebagian besar kesenian yang terdampak adalah Warisan Budaya Tak Benda. Menyelamatkan senimannya berarti menyelamatkan warisan bangsa,” tegas Dr. Afifuddin.

Ia juga mengajak Menteri Kebudayaan atau Wakil Menteri untuk turun langsung menjenguk para seniman, terutama di dataran tinggi Gayo yang masih terisolasi dan di pesisir Aceh yang terdampak parah.

“Kehadiran negara akan menjadi penguat batin kami, agar tetap bertahan menjaga tradisi dan kebudayaan Indonesia.”

Di tengah lumpur dan reruntuhan, para seniman Aceh masih menyimpan harapan. Mereka percaya, selama rapai masih bisa dipukul, selama tari masih bisa digerakkan, dan selama lagu masih bisa dinyanyikan, Aceh akan tetap hidup dalam kebudayaannya.

Namun, hari ini, mereka menunggu uluran tangan, agar seni dan dunia kesenian di negeri “Seramoe Makkah” itu tidak ikut tenggelam bersama musibah.

Penulis: Muhammad Subhan
Editor: Ayu K. Ardi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ketika Jenderal Purnawirawan Turun Menjadi Relawan

7 Januari 2026 - 13:42 WIB

GPMB Aktif Mendorong Peningkatan TGM dan IPLM Kabupaten Maros

7 Januari 2026 - 10:06 WIB

Kubu Gadang Gelar Desa Wisata Fair II Edukatif untuk Pulihkan Trauma Anak Korban Galodo

3 Januari 2026 - 10:27 WIB

Bachtiar Adnan Kusuma: Setiap Masjid Wajib Menulis Sejarahnya

3 Januari 2026 - 08:28 WIB

Chaidir Syam Hadir di Tengah Keluarga DDI Awal Tahun 2026

1 Januari 2026 - 20:20 WIB

Trending di BERITA