Oleh Muhammad Subhan
SASTRAWAN Indonesia asal Payakumbuh, Adri Sandra, di beranda Facebook-nya menulis catatan pendek tentang hidup penulis. Tak sedikit orang beranggapan, kata Adri Sandra, penulis itu penganggur, bahkan ada yang bilang penulis itu pemalas. Mereka yang beranggapan demikian barangkali tak melihat kerja penulis itu sendiri.

“Setiap malam kami bekerja sendiri melahirkan karya, dengan pikiran dan jiwa, terkadang begitu lelah berjam-jam mengalirkan renungan ke kertas. Mungkin salah satunya aku, menulis atau juga melukis vignette dengan tinta. Di tempat aku menuangkan pikiran, tersedia bantal, bila ngantuk dan lelah akan berbaring di tempat kerja, tidak di kamar dengan kasur empuk, tidak dengan selimut tebal pengusir dingin malam,” tulis Adri Sandra.
Adri Sandra bahkan membagikan video pendek ruang tengah dangaunya di Padang Jopang, Limapuluh Kota, sebagai ilustrasi bagaimana penulis bekerja. Dalam video itu tampak sebuah laptop di meja tanpa kursi, dan di lantai berkarpet ada beberapa bantal. Tak ada kemewahan, hanya ruang sederhana yang dipenuhi semangat.
“Lelah adalah kemerdekaan kami, karya adalah napas kami. Suatu pekerjaan yang kami lakukan dengan cinta sepenuh hati. Bila ini bukan kerja, ya bagi kami itu sebuah dunia, lebih luas dari berhektar kebun sawit dan kelapa,” tulis Adri Sandra lagi mengomentari videonya itu.
Kehidupan seorang penulis memang berbeda dengan pekerja kantoran. Tidak ada jam kerja yang pasti, tidak ada absensi pagi-sore, tidak ada target yang terikat kontrak perusahaan.
Penulis bekerja dalam sunyi, terkadang ditemani secangkir kopi yang dingin karena lupa diteguk.
Inspirasi bisa datang tengah malam, bisa hadir di bus, bisa lahir di pelataran masjid, atau saat hujan jatuh deras di luar jendela.
Penulis bekerja ketika orang lain tidur, dan terkadang tertidur saat orang lain baru mulai bekerja.
Mereka menjual kata-kata. Kata-kata itulah modal, sekaligus mata pencaharian. Sebagian penulis hidup dari honorarium, dari royalti buku, dari artikel di surat kabar, dari naskah drama, atau dari tulisan yang dimuat di media digital.
Mereka menghidupi diri dan keluarganya dengan huruf, kalimat, paragraf, dan cerita.
Ada yang menulis novel untuk membayar sewa rumah, ada yang menyusun naskah skenario demi biaya sekolah anak, ada yang menulis esai agar dapur tetap berasap. Dan, tak sedikit menjadi penulis bayangan (ghostwriter) untuk mendapatkan tambahan uang sehingga kebutuhan hidupnya terpenuhi.
Pekerjaan ini tidak kasat mata, karena yang dijual bukan barang wujud, melainkan gagasan yang lahir dari otak dan jiwa.
Namun, justru di sanalah sering datang cibiran. Penulis kerap dianggap orang aneh, pemalas, tidak punya masa depan yang jelas, dan segala label yang dilekatkan kepada mereka.
Orang lupa, bila tidak ada penulis, apa yang akan dibaca di perpustakaan? Apa yang akan dipelajari di sekolah? Dari mana buku-buku pelajaran itu lahir kalau bukan dari pena seorang penulis?
Buku-buku sejarah, ilmu pengetahuan, sastra, dan karya lainnya lahir dari tangan dan kesetiaan para penulis.
Saya teringat Hamka dalam bukunya “Kenang-Kenangan Hidup” yang memotret bagaimana seorang pengarang bekerja. Hamka menulis, “Dalam mengarang kita akan bertemu dengan kegagalan. Dalam mengarang kita akan bertemu dengan angin baik dan angin buruk. Kadang-kadang dalam sedikit tahun kita mendapat inspirasi berturut-turut, sehingga kita digelari orang produktif, mengeluarkan hasil banyak. Tetapi dalam waktu yang lain kita sepi. Hanya ilhamlah kawan pengarang yang karib. Ilham itu pun tidak datang. Kita tidak boleh berputus asa, karena di dalam jiwa kita tidaklah padam keinginan hendak mengarang. Tuan pikirkan sendirilah!”
Pengakuan Hamka ini menyingkap betapa menulis tidak selalu lancar. Ada masa penuh panen, ada pula masa paceklik. Tetapi seorang penulis tetap saja setia dengan pekerjaannya.
Ia tidak punya pilihan selain menulis, sebab di sanalah dunianya.
Hamka bahkan menyinggung pengalamannya sendiri: di tahun 1925 ia mulai menulis, baru beberapa tahun kemudian ia menerima honorarium yang bisa dipakai untuk belanja. Di masa awal, penghasilan itu sangat kecil, bahkan tidak sebanding dengan tenaga yang dicurahkan. Tapi Hamka menyebutnya sebagai “perniagaan” juga, sebab menulis bukan hanya panggilan jiwa, tetapi juga jalan untuk bertahan hidup.
“Jadi, mengapa menjadi pengarang saya ini? Saya hanya mengatasi zamanku! Tidak lebih tidak kurang!” kata Hamka lagi.
Ungkapan itu seperti pengakuan bahwa penulis bekerja melawan arus zaman, mencoba merekam perubahan, menangkap gejala, dan menyampaikan pandangan kepada pembaca.
Menulis adalah pekerjaan yang sunyi. Tidak ada sorakan penonton sebagaimana pemain bola. Tidak ada tepuk tangan riuh sebagaimana musisi di panggung.
Penulis hanya punya dirinya sendiri, selembar kertas, atau layar laptop yang dingin. Dari sana ia bergulat dengan kata-kata, membongkar ingatan, meramu pengalaman, dan mengubahnya menjadi narasi.
Kadang penulis seperti petani: menanam kata demi kata, menunggu musim panen ketika karya itu dibaca dan diapresiasi.
Kadang penulis seperti nelayan: melempar jaring ke laut ide, berharap mendapatkan tangkapan berupa inspirasi segar.
Kadang penulis seperti pengrajin: mengukir kata dengan sabar, menatah kalimat, mengamplas paragraf, hingga halus dan indah.
Tidak jarang penulis harus melawan dirinya sendiri: rasa malas, rasa tidak percaya diri, rasa takut tidak dibaca. Tapi sekali lagi, bila ia berhenti menulis, seakan ia berhenti bernapas. Menulis adalah jalan hidup, bukan sekadar pilihan pekerjaan.
Coba bayangkan dunia tanpa penulis. Tidak ada novel yang menghibur, tidak ada puisi yang menyentuh, tidak ada buku pelajaran yang mendidik, tidak ada sejarah yang dicatat. Generasi hanya hidup dari cerita mulut ke mulut yang bisa pudar oleh waktu. Dunia akan kehilangan sebagian besar jejaknya karena tidak ada yang mencatat dan menuliskannya.
Penulis mungkin dianggap sepele, tetapi justru merekalah yang menyalakan obor peradaban. Dari Plato, Shakespeare, Pramoedya, hingga Taufiq Ismail, dan penulis-penulis yang lebih muda hari ini—semua menghidupi zaman dengan kata-kata. Mereka bukan sekadar pekerja, tetapi pengabad waktu.
Menjadi penulis berarti siap hidup dalam kesunyian, menghadapi cibiran, dan menerima risiko tidak dimengerti. Namun pekerjaan itu sekaligus pekerjaan mulia. Penulis mengajarkan kita berpikir, memberi kita bahasa, membukakan jendela ke dunia, dan mewariskan pengetahuan lintas generasi.
Hamka pernah berpesan, “Kalau hidup hanya sekadar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau bekerja hanya sekadar bekerja, kera juga bekerja.” Maka, menulis bukan sekadar bekerja, melainkan mengabdikan hidup pada sesuatu yang lebih besar: peradaban.
Penulis adalah mereka yang rela menyepi agar orang lain bisa menemukan terang. Mereka yang hidup dalam kalimat agar manusia lain tidak kehilangan arah. Dan, meskipun kata-kata mereka sering dianggap remeh, sesungguhnya merekalah yang menjaga api pengetahuan tetap menyala.
Menjadi penulis adalah pekerjaan mulia: menyalakan lampu di jalan gelap, agar manusia tidak berhenti berjalan. Tak jarang pula mereka menjadi lilin, rela tubuhnya terbakar asal orang lain mendapatkan cahaya. []
Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis.
Gambar ilustrasi dibuat oleh tim redaksi Majalahelipsis.id menggunakan teknologi kecerdasan digital.









