Oleh Muhammad Subhan
APOTEK hidup yang saya tanam pada sedikit lahan di pekarangan dan di samping rumah di masa pandemi Covid-19 (2020–2022) memberi pelajaran yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Ketika harga kebutuhan pokok melambung tinggi dan pasokan barang di pasar tak menentu, tanaman-tanaman itu menjadi penyelamat yang menambah semangat hidup.

Beberapa batang cabai memenuhi kebutuhan dapur sehingga lidah masih merasakan pedas dalam makanan meski yang dimakan apa adanya. Jahe merah yang tumbuh di samping rumah menolong saya menjaga daya tahan tubuh ketika di pasaran barang itu langka. Begitu pula serai, kunyit, beberapa jenis sayuran, hingga tanaman obat yang semula saya tanam hanya sekadar memenuhi halaman.
Pada masa genting itu, saya merasakan bagaimana kearifan lokal, menanam sesuatu di sekitar rumah untuk hari-hari sukar, menjadi penyangga kehidupan.
Ternyata, apa yang dilakukan orang tua dan ninik mamak kita dulu bukan sekadar kebiasaan, melainkan pengetahuan hidup yang diwariskan dengan penuh kesadaran ekologis dan pengalaman masa lalu.
Kearifan lokal bekerja dengan logika sederhana namun kuat: manusia selalu harus siap menghadapi masa tak pasti. Filosofi semacam itu tidak hanya berlaku pada masa krisis pangan, tetapi juga relevan pada situasi-situasi bencana alam yang sering menimpa wilayah Sumatera, terutama Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Ketika banjir bandang, galodo, hingga tanah longsor terjadi, masyarakat yang masih memegang nilai-nilai lokal biasanya jauh lebih sigap, lebih saling terhubung, dan lebih mampu membaca tanda-tanda alam sebelum bencana benar-benar menghantam.
Di banyak nagari di Sumatera Barat, misalnya, pengetahuan untuk membaca perubahan alam diturunkan secara lisan dan dipraktikkan sehari-hari. Warga menyadari bahwa suara burung tertentu yang mendadak riuh, aliran sungai yang tiba-tiba keruh, atau tanah yang mengeluarkan suara retak adalah pertanda bahaya yang tak boleh diabaikan. Pola angin, bau air, hingga cara hewan-hewan bergerak pun sering dijadikan rambu alamiah.
Sebuah pengetahuan itu tak tertulis dalam buku ilmu kebencanaan, namun teruji oleh ratusan tahun pengalaman hidup berdampingan dengan bukit-bukit, sungai-sungai deras, dan lereng-lareng rapuh.
Pengetahuan seperti ini kerap membuat warga menyelamatkan diri lebih cepat dibanding menunggu instruksi formal yang sering datang terlambat.
Selain membaca tanda alam, masyarakat tradisional Sumatera juga telah lama menjalankan prinsip tata ruang yang selaras dengan daya tahan lingkungan. Di wilayah adat Minangkabau, misalnya, larangan membangun rumah terlalu dekat “batang aia” (aliran sungai) atau di lereng curam bukanlah aturan tanpa alasan. Ia lahir dari pemahaman mendalam atas karakter bumi yang mudah berubah.
Rumah gadang sebagian besar didirikan di tanah yang keras dan stabil, jauh dari jalur aliran air dan rawan longsor. Rumah itu terbuat dari kayu, anti gempa, termasuk ditopang oleh tiang-tiang sebagai kaki, menjadikan rumah lebih tinggi, sehingga terhindar dari banjir maupun hewan buas.
Ketika generasi sekarang tidak lagi memerhatikan pesan-pesan ini, bencana seakan menjadi lebih dekat dan ganas.
Namun, kearifan lokal tidak hanya bekerja sebelum bencana datang. Ia juga menjadi tenaga sosial yang sangat kuat ketika bencana sudah terjadi. Di Sumatera Barat, nilai “batolong-tolongan”, “basamo mangko manjadi”, atau ungkapan “ringan sama dijinjing, berat sama dipikul” bukan sekadar pepatah. Nilai itu menjadi kearifan lokal yang nyata dan bergerak membantu warga mengungsi, mendirikan posko, membagi logistik, membersihkan rumah yang tertimbun lumpur, hingga menghibur korban yang kehilangan harapan.
Solidaritas sosial seperti ini membuat penanganan bencana terasa lebih manusiawi, bukan semata-mata kerja formal lembaga, tetapi kerja kolektif yang berangkat dari kesadaran sebagai sesama manusia yang berbagi nasib.
Dalam banyak pengalaman bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, peran pemimpin adat, niniak mamak, alim ulama, cadiak pandai, dan bundo kanduang selalu tampak dominan. Mereka adalah orang-orang dipercaya masyarakat, terutama ketika kepanikan melanda. Keputusan mereka dalam mengevakuasi penduduk, menentukan titik aman, menyebarkan informasi, atau menengahi konflik yang muncul di masa krisis sering kali menjadi perekat harmoni. Kepemimpinan adat seperti ini, yang berakar pada hubungan emosional dan budaya, sering jauh lebih efektif daripada instruksi birokratis yang cenderung kaku.
Bahkan, setelah bencana berlalu, kearifan lokal tetap bekerja, terutama dalam memelihara ketahanan psikologis para korban. Petatah-petitih yang menenangkan dan didendangkan kepada anak sebelum tidur, doa-doa adat yang diwariskan dari leluhur, serta cerita tentang bencana besar masa lampau menjadi sumber kekuatan batin. Ungkapan Minangkabau seperti “kok indak ka lurah, ka bukik; kok indak ka ateh, ka bawah; kok indak bisa di awak, ka urang” (Kalau tidak ke lembah, ke bukit; kalau tidak ke atas, ke bawah; kalau tidak bisa dikerjakan sendiri, mintalah bantuan orang lain—pen.) mengajarkan bahwa selalu ada jalan untuk bangkit, selalu ada cara untuk memulai kembali kehidupan meski puing-puing rumah dan harta berserakan.
Nilai resiliensi inilah yang membuat masyarakat Sumatera di masa lampau cepat bergerak membangun kembali ladang, rumah, dan rutinitas mereka.
Kearifan lokal pada dasarnya adalah cara masyarakat memahami diri dan lingkungannya. Ia lahir dari ingatan panjang tentang banjir yang pernah meruntuhkan kampung, gempa yang pernah merobohkan rumah gadang, atau tanah longsor yang pernah menelan ladang. Karena itu, ia bersifat adaptif, empiris, dan sarat etika, dan justru karena itulah ia relevan dalam mitigasi bencana modern.
Negara memiliki teknologi, peta digital, dan sistem peringatan dini formal. Masyarakat memiliki mata, telinga, intuisi, dan memori kolektif. Ketika keduanya disatukan, kemungkinan keselamatan jauh lebih besar daripada mengandalkan salah satunya saja.
Sayangnya, di era modern, ketika pemukiman semakin padat, masyarakat makin individualis, dan ritme hidup terasa lebih cepat, kearifan lokal tidak selalu mendapat ruang. Banyak nilai yang terlupakan, banyak larangan adat yang diabaikan, dan banyak filosofi hidup yang dianggap tidak relevan dengan gaya hidup baru.
Padahal, tanpa kearifan lokal, masyarakat seperti kehilangan akar yang menopang.
Untuk menghidupkannya kembali, nilai-nilai lama itu tidak perlu dikembalikan secara kaku. Ia harus diterjemahkan ke dalam bentuk yang lebih dekat dengan kehidupan generasi kini. Gotong royong bisa dihidupkan lagi lewat kegiatan komunitas lingkungan, petatah-petitih dapat hadir dalam kampanye digital, nilai-nilai adat bisa diajarkan kembali di sekolah melalui proyek-proyek budaya dan mitigasi bencana, toponimi kampung bisa didigitalkan sebagai peta rawan bencana, pun para niniak mamak dapat menjadi figur publik digital yang memberi edukasi budaya melalui konten-konten kreatif di media sosial.
Dengan begitu, kearifan lokal tidak hanya menjadi warisan, tetapi menjadi alat keamanan hidup.
Sejatinya, yang membuat suatu masyarakat bertahan ratusan tahun bukan hanya karena kekuatan fisik atau pembangunan modern, tetapi karena kebijaksanaan lokal yang hidup dalam keseharian. Kearifan lokal adalah jembatan antara masa lalu dan masa depan, menjadi petunjuk yang memandu masyarakat melewati bencana dan kembali bangkit dan berdiri setelahnya.
Dan, “life must go on.” Hidup harus terus berjalan. Kearifan lokal menjadi kompas yang menuntun setiap langkah ketika situasi paling kacau sekalipun. Di dalamnya tersimpan pengalaman panjang nenek moyang yang telah teruji oleh waktu dan keadaan. Kita tinggal memungut pelajaran. []
Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis.
Gambar ilustrasi dibuat oleh tim redaksi Majalahelipsis.id menggunakan teknologi kecerdasan buatan.









