SMPN 3 Ampek Angkek, Sekolah yang Melahirkan Ratusan Buku Dancesport Makin Diminati, IODI Padang Panjang Resmi Resmi Terbentuk Bahas Desain Sampul, Komunitas Seni Kuflet Matangkan Penerbitan Buku Puisi “Air Mata Sumatra” Anjing Pelacak yang Menjalankan Misi Kemanusiaan Itu Gugur di Medan Bencana Dari Gudang ke Galeri, dari Galeri ke Cuan Mahasiswa Prodi Seni Murni ISI Padang Panjang Gelar Pameran dari “Gudang ke Galeri”

BERITA

Akram Hakim Sutradarai “Kebo Nyusu Gudel” Karya Dheny Jatmiko dengan Pendekatan Teater Epik Brecht

badge-check


					Akram Hakim Sutradarai “Kebo Nyusu Gudel” Karya Dheny Jatmiko dengan Pendekatan Teater Epik Brecht Perbesar

PADANG PANJANG, Majalahelipsis.id — Akram Hakim, mahasiswa Minat Utama Penyutradaraan Jurusan Seni Teater ISI Padang Panjang, akan menggelar pertunjukan teater sebagai syarat meraih gelar Sarjana Seni.

Ia menyutradarai naskah “Kebo Nyusu Gudel” karya Dheny Jatmiko dengan pendekatan Teater Epik Brecht.

Pertunjukan akan dilangsungkan pada Jumat, 18 Juli 2025, pukul 20.00 WIB di Gedung Teater Arena Mursal Esten ISI Padang Panjang.

Hal ini disampaikan Pimpinan Produksi, Ghea Nabilla Athifa, Rabu (16/7/2025).

Sebagai sutradara sekaligus mahasiswa teruji, Akram Hakim menjelaskan, pendekatan Epik Brecht dipilih untuk menyadarkan generasi muda agar mau memperbaiki sikap, tidak merasa lebih pintar atau lebih hebat dari orang tua maupun pejabat.

“Lewat pertunjukan ini saya ingin mengingatkan anak muda untuk tetap rendah hati dan berpikir kritis,” ujar pegiat Komunitas Seni Kuflet tersebut.

Akram juga menambahkan bahwa dalam proses latihan, para aktor diberikan kebebasan untuk bereksplorasi.

“Teater epik adalah bentuk seni naratif yang non-linear. Unsur individual dan kolektif berpadu di panggung,” kata sutradara muda itu.

Pembimbing karya teater ini, Dr. Sulaiman Juned, M.Sn., menjelaskan bahwa konsep Teater Epik Brecht menekankan pada upaya menggugah penonton berpikir kritis, bukan sekadar larut secara emosional.

“Brecht menciptakan Verfremdungseffekt atau efek keterasingan, agar penonton tidak hanyut dalam cerita, tetapi lebih fokus pada pesan moral,” tutur sastrawan yang juga dikenal sebagai sutradara teater tersebut.

Sulaiman menambahkan, dalam pendekatan Teater Epik Brecht, alur cerita biasanya bersifat episodik, menggunakan narasi dan lagu, serta efek visual untuk memecah ilusi panggung.

“Selain itu, aktor juga menggunakan teknik Gestus, yakni menunjukkan sikap sosial sekaligus memberi komentar pada karakter yang diperankan, bukan sepenuhnya melebur menjadi karakter tersebut,” jelas pendiri Komunitas Seni Kuflet itu.

Menutup penjelasannya, Akram Hakim berharap penonton tidak hanya terhibur, tetapi juga terinspirasi untuk terus berpikir kritis dalam bertindak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Dancesport Makin Diminati, IODI Padang Panjang Resmi Resmi Terbentuk

6 Desember 2025 - 20:01 WIB

Bahas Desain Sampul, Komunitas Seni Kuflet Matangkan Penerbitan Buku Puisi “Air Mata Sumatra”

6 Desember 2025 - 19:29 WIB

Mahasiswa Prodi Seni Murni ISI Padang Panjang Gelar Pameran dari “Gudang ke Galeri”

3 Desember 2025 - 15:25 WIB

Angkat Silek Minangkabau ke Panggung Nasional, Jenilva Raih Juara 2 di Bacodaco 2025

2 Desember 2025 - 12:14 WIB

Konsep Bahagia Buya Hamka di PAUD Menulis Jeneponto

1 Desember 2025 - 06:15 WIB

Trending di BERITA