PADANG PANJANG, Majalahelipsis.id — Komunitas Seni Kuflet Padang Panjang kembali memperkuat kiprahnya di ranah kemanusiaan dan kebudayaan. Pada Minggu (30/11/2025), para pegiat Kuflet berkumpul di sekretariat mereka di Padang Panjang untuk membahas persiapan penerbitan Buku Antologi Puisi Bencana Jilid 2 bertajuk “Air Mata Sumatera.”
Pertemuan tersebut turut dihadiri pendiri Kuflet, Dr. Sulaiman Juned, S.Sn., M.Sn., yang selama ini menjadi penggerak utama kegiatan literasi dan seni komunitas tersebut, juga Muhammad Subhan, pembina Kuflet sekaligus founder Sekolah Menulis elipsis.

Antologi pusi ini, menurut Sulaiman Juned, merupakan kelanjutan dari buku “Negeri Bencana” yang dirilis tahun lalu. Buku tersebut melibatkan seratus penyair Indonesia dan mendapat perhatian luas karena memotret duka, harapan, serta keteguhan masyarakat Indonesia menghadapi rentetan bencana alam.
“Tahun ini, komitmen yang sama kembali kami gelorakan, bahkan dengan urgensi yang lebih kuat, sebab Kuflet berempati pada musibah yang tengah terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat,” ujar sastrawan dan sutradara teater itu.
Dia mengungkapkan, beberapa hari terakhir, rangkaian bencana melanda sejumlah daerah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, mulai dari banjir bandang, angin kencang, serta tanah longsor (galodo) menyebabkan kerusakan besar dan menimbulkan banyak korban, baik nyawa dan harta.
Situasi itu mengetuk Komunitas Seni Kuflet untuk kembali bergerak cepat. Melalui penerbitan buku antologi puisi “Air Mata Sumatera”, Kuflet ingin menggalang donasi yang seluruhnya akan disalurkan kepada para penyintas di daerah terdampak.
“Kami percaya puisi bukan hanya karya estetis, tetapi juga medium solidaritas,” ujar Sulaiman Juned yang juga dosen Prodi Teater ISI Padang Panjang.
Ia menegaskan bahwa buku itu akan menjadi ruang kepedulian bersama, tempat suara para penyair, seniman, maupun masyarakat umum bertemu untuk mengulurkan tangan bagi korban bencana.
Seperti tahun sebelumnya, sebut Sulaiman, Kuflet membuka kesempatan bagi siapa saja untuk berkontribusi. Tak hanya penyair berpengalaman, masyarakat umum yang ingin mengekspresikan empati melalui kata-kata juga dipersilakan ikut serta.
“Pengumuman resmi mengenai teknis pengiriman karya dan jadwal penerbitan akan kami umumkan melalui akun media sosial Kuflet dalam waktu dekat,” ujarnya.
Kuflet sendiri dikenal konsisten menerbitkan antologi puisi setiap tahun sebagai wujud komitmen terhadap kerja-kerja kemanusiaan dan kebudayaan. Melalui kegiatan ini, seni tidak hanya menjadi ruang ekspresi, tetapi juga jembatan solidaritas sosial.
Ditambahkan, buku antologi puisi “Air Mata Sumatera” diharapkan menjadi gerakan literasi empatik, menyatukan suara dari berbagai daerah, sekaligus menjadi bukti bahwa kata-kata dapat menjadi cahaya bagi mereka yang sedang berada dalam masa-masa paling gelap. (AAN)









