Oleh Bachtiar Adnan Kusuma
MENULIS buku selalu menuntut pengorbanan—termasuk pengorbanan materi. Sebab, modal utama seorang penulis adalah kekayaan bacaan, dan untuk membaca, tentu kita harus memiliki buku. Artinya, dibutuhkan biaya untuk membeli dan mengoleksinya.

Lihatlah teladan para tokoh seperti Muhammad Natsir dan Abdullah Said. Kedua ulama besar Indonesia itu dikenal sangat gemar membeli buku. Bahkan, uang beasiswa yang mereka peroleh semasa sekolah habis untuk membeli bacaan.
Menulis buku juga memerlukan kesabaran dan ketekunan. Mengapa demikian? Karena menulis adalah proses panjang yang menuntut ketulusan dan waktu yang tidak singkat. Buya Hamka misalnya, menghabiskan bertahun-tahun untuk menyelesaikan Tafsir Al-Azhar. Begitu pula Ahmad Warson Munawwir yang menuntaskan Kamus Arab–Indonesia setelah perjalanan panjang penuh kesungguhan.
Sesungguhnya, buku dapat lahir kapan pun, asalkan penulis memiliki kemerdekaan waktu dan pikiran. Tidak ada alasan untuk tidak menulis—yang dibutuhkan hanyalah kemampuan menjinakkan waktu dan mengasah kemerdekaan berpikir. Kuncinya sederhana: tetaplah menulis di mana pun dan kapan pun.
Sejarah membuktikan, para ulama terdahulu menjadikan menulis sebagai bagian dari perjuangan intelektual. Sebut saja: Buya Hamka dengan Di Bawah Lindungan Ka’bah, Bey Arifin dengan Samudera Al-Fatihah, Zakiah Daradjat dengan Ilmu Jiwa Agama, dan K.H. Ali Yafie dengan Fiqih Sosial.
Dari tanah Sulawesi Selatan pun lahir banyak ulama penulis, seperti: K.H. Abdurrahman Ambo Dalle, pencipta lagu DDI, Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar dengan karya-karya tasawufnya, K.H. Amirullah Amri dengan Dari Pesantren ke Baitullah, K.H. Masrur Makmur Latanro dengan Fiqh Politik Muslim Bali, dan banyak lagi lainnya.
Menariknya, semangat menulis itu kini juga menular ke kalangan santri dan alumni IMMIM. Salah satunya adalah Dr. H. A. S. Chaidir Syam, S.IP., M.H., yang telah menulis sejumlah buku, antara lain Mengayuh Dua Zaman (Inovasi Kabupaten Maros).
Menulis bukan sekadar melahirkan kata, tetapi menyalakan obor pengetahuan bagi generasi. Karena di balik setiap buku, selalu ada perjuangan, pengorbanan, dan keabadian gagasan. []
Bachtiar Adnan Kusuma, Tokoh Literasi dan Penulis Nasional.









